"Sulit membayangkan lahirnya kesepakatan yang stabil bila satu pihak terus menerus berunding di bawah bayang-bayang tekanan. Dalam keadaan seperti itu, perundingan kehilangan makna sebagai ruang mencari titik temu, lalu berubah menjadi arena pemaksaan,” tutur dia.
Dari perspektif ekonomi, konflik di Teluk Persia ini memiliki dampak transmisi langsung ke masyarakat luas, termasuk di Indonesia. Kenaikan harga energi dunia akibat ketidakpastian jalur pasokan akan memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi.
Achmad memperingatkan bahwa gejolak geopolitik ini dapat menjalar hingga ke harga kebutuhan pokok di tingkat rumah tangga. Indonesia menghadapi risiko nyata berupa tekanan inflasi, fluktuasi nilai tukar, dan gangguan pasokan energi nasional.
"Kenaikan harga minyak bukan sekadar angka di bursa komoditas. Ia merambat ke ongkos produksi, distribusi, transportasi, dan pada akhirnya ke harga kebutuhan pokok. Gejolak di Teluk Persia dapat menjalar hingga ke dapur rumah tangga di Indonesia,” kata dia.
Menghadapi situasi ini, Indonesia didorong untuk tidak sekadar menjadi penonton. Sebagai negara dengan prinsip politik bebas aktif, Indonesia memiliki ruang untuk menjadi jembatan komunikasi yang netral di dunia Islam.