Dalam menentukan kelayakan penerima, Lapas Cikarang menerapkan sistem penilaian berbasis objektif melalui Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana (SPPN).
Penilaian ini mencakup kedisiplinan, kepatuhan terhadap tata tertib, hingga keaktifan dalam program pembinaan.
Selain itu, evaluasi tingkat risiko warga binaan dilakukan melalui Instrumen Skrining Penempatan Narapidana (ISPN), yang digunakan untuk mengukur tingkat risiko serta kebutuhan pembinaan masing-masing individu.
Urip menegaskan, remisi bukan sekadar pengurangan hukuman, melainkan bentuk apresiasi negara terhadap perubahan positif warga binaan.
“Remisi merupakan hak bagi warga binaan yang telah memenuhi persyaratan. Melalui SPPN dan ISPN, kami memastikan pemberian remisi dilakukan secara objektif kepada mereka yang benar-benar menunjukkan perkembangan perilaku dan penurunan tingkat risiko selama menjalani pembinaan,” tegasnya.