Bukan hanya bagi pasien, RME ini rupanya juga mempermudah fasilitas kesehatan dalam memberikan pelayanan. Setiap kali pasien berobat atau dirawat, data hasil pemeriksaan dan pengobatan akan langsung masuk ke dalam RME.
Sehingga, rumah sakit atau fasilitas kesehatan berikutnya hanya tinggal melihat rekam medis dari RME pasien tersebut.
“Kedua, ini bisa dipakai oleh faskes untuk mempermudah pelayanan kesehatan. Kalau rumah sakit A mau merujuk rumah sakit B nggak usah dibawa masing-masing, enggak usah di-entry manual. Karena otomatis sudah datanya, sudah nyambung. Sehingga sebelum sampai pun dokter yang menerima di IGD sudah tahu kondisi kesehatannya seperti apa,” tambah dia.
Ketiga, RME ini memberikan manfaat bagi BPJS Kesehatan guna memantau progres perkembangan kondisi pasien serta clinical pathway atau alur penanganan medisnya.
“Ketiga, Ini bagusnya buat BPJS. Kenapa orang di caesar tidak ada indikasi dari USG Puskesmas seminggu yang lalu bahwa dia perlu operasi caesar? Semuanya itu nanti bisa digunakan oleh BPJS secara online untuk melihat apakah memang benar clinical pathway-nya sudah dijalankan dengan benar. ‘Oh ini tiba-tiba usus buntu dia di-CT scan’. Mana ada usus buntu ada di perlu di-CT scan,” ungkap Budi.