Menurut Prabowo, kondisi tersebut membuat dirinya harus membangun koalisi untuk memimpin dan mengurus negara.
“Dan karena demokrasi, saya harus berkoalisi. Berkoalisi itu untuk memimpin dan memerintah dan mengurus negara yang sebentar lagi 300 juta orang. Negara keempat terbesar di dunia. Tidak mungkin negara sebesar ini dipimpin hanya satu partai. Kita ini sekarang delapan partai sudah luar biasa efisiennya. Banyak negara lain mungkin belasan partai, puluhan partai,” ujarnya.
Prabowo kemudian membandingkan sistem pemerintahan Indonesia dengan sejumlah negara lain. Dia menilai stabilitas pemerintahan menjadi hal penting dalam menjalankan negara.
“Kita lihat di Jepang walaupun hanya dua partai besar, tapi dalam 5-6 tahun berapa kali ganti Perdana Menteri. Di Inggris dalam 5 tahun mungkin 7-8 kali Perdana Menteri. Jadi bagaimanapun pemerintahan membutuhkan stabilitas, ketenangan,” katanya.
Prabowo mengatakan pemerintahan yang dipimpinnya merupakan koalisi besar dengan tujuh dari delapan partai yang ada di parlemen. “Jadi demikian pemerintah koalisi yang saya pimpin, termasuk besar. Tujuh partai dari delapan partai di parlemen. Dan kabinet yang saya susun pernah dikatakan kabinet gemuk, tidak efisien,” ujar Prabowo.