Dia menilai hal tersebut menunjukkan bahwa pengadaan Chromebook tidak memiliki landasan perencanaan yang kuat sesuai prinsip tata kelola proyek.
“Seharusnya Renstra kementerian diturunkan dulu ke Renstra IT, lalu ke program, baru ke proyek. Tapi di sini lompatannya terlalu jauh, langsung ke pengadaan,” ujarnya.
“Penggunaan diksi Renstra hanya berupa pengutipan. Tidak jelas bagian mana yang diturunkan menjadi program pengadaan ini,” tambahnya.
(Nadya Kurnia)