"Kecelakaan yang melibatkan kereta api dengan kendaraan mobil listrik sebenarnya hanya rugi material. Namun, akibatnya, perjalanan kereta api lainnya terganggu, KRL yang menunggu proses evakuasi," ujarnya.
Sandhi mengatakan informasi tentang kereta yang menabrak mobil taksi online di perlintasan itu diduga belum sempat disampaikan secara menyeluruh kepada Kereta Api Argo Bromo Anggrek yang saat itu tengah melaju.
Menurut Sandhi, Kereta Api Argo Bromo Anggrek sedang berjalan dengan kecepatan tinggi, yakni 110 kilometer per jam.
"Akibat kurangnya informasi dan koordinasi tersebut, terjadilah tabrakan di Stasiun Bekasi Timur, lebih tepatnya yang mengakibatkan beberapa korban meninggal dunia," tuturnya.
Ia menambahkan saat ini petugas tengah melakukan proses penyidikan dengan metode Traffic Accident Analysis atau TAA. Dengan cara melakukan reka ulang proses kecelakaan sebelum, saat terjadi kecelakaan, dan sesudah kejadian.