sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

TPST Bantargebang Disebut Penyumbang Metana Terbesar Kedua, Pemprov DKI Siapkan Skema Pengolahan 

News editor Danandaya Arya Putra
07/05/2026 12:49 WIB
Skema pengolahan sampah menjadi bahan bakar (fuel) juga telah disiapkan di TPST Bantargebang.
TPST Bantargebang Disebut Penyumbang Metana Terbesar Kedua, Pemprov DKI Siapkan Skema Pengolahan 
TPST Bantargebang Disebut Penyumbang Metana Terbesar Kedua, Pemprov DKI Siapkan Skema Pengolahan 

IDXChannel - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan menyiapkan skema pengolahan sampah yang baik menyusul Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Kota Bekasi disebut sebagai penyumbang emisi gas metana terbesar kedua di dunia sepanjang 2025.

Ini diketahui berdasarkan hasil riset dari Emmett Institute di Fakultas Hukum University of California, Los Angeles (UCLA).

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan, dirinya telah menyetujui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Proyek ini akan mengolah sampah menjadi energi listrik.

"Yang pertama, saya sudah menyetujui untuk di sana segera dibangun untuk PLTSa pembangkit listrik tenaga sampah," kata Pramono, Kamis (7/5/2026).

Selain itu, skema pengolahan sampah menjadi bahan bakar (fuel) juga telah disiapkan di TPST Bantargebang. Pihaknya akan memfokuskan pada pengolahan sampah dengan metode refuse derived fuel (RDF).

"Sehingga dengan demikian nanti di sana ada tiga aktivitas, untuk RDF Bantargebang, yang kedua untuk fuel, yang ketiga untuk menjadi energi (PLTSa)," katanya.

Jika skema tersebut telah beroperasi, menurutnya bisa menekan emisi gas metana yang dihasilkan dari TPST Bantargebang. Karena, volume sampah di TPST Bantargebang saat ini diperkirakan telah mencapai 55 juta ton. 

"Dan kalau itu bisa dilakukan, pasti itu akan mengurangi banyak metan yang ada di sana yang sudah tertimbun begitu lama, cadangannya sudah 55 juta. Saya tidak mau menyalahkan siapapun tetapi ini menjadi tanggung jawab kita untuk menyelesaikan itu," kata dia. 

Di sisi lain, Pramono juga menyampaikan bahwa pengelolaan sampah dengan metode RDF telah dijalankan di Rorotan, Jakarta Timur. Ia menyampaikan RDF Rorotan saat ini mampu mengelola sampah 750 ton per hari.

"Saya minta untuk Rorotan sekarang ini juga sudah produksi sudah sehari rata-rata 750 ton, saya minta untuk pelan-pelan ditingkatkan tetapi diperbaiki infrastrukturnya supaya tidak memberikan dampak bau maupun pernapasan bagi warga yang ada," kata dia.

(Nur Ichsan Yuniarto)

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement