"Namun, dinamika kekuasaan telah bergeser sejak kunjungan terakhir Trump pada tahun 2017 ketika China berupaya keras untuk memanjakan Trump dan membeli barang-barang AS senilai miliaran dolar," kata Ali Wyne Penasihat Senior untuk hubungan AS-China di International Crisis Group.
"Saat itu, China berusaha membujuk Amerika Serikat tentang statusnya yang semakin meningkat. Kali ini, Amerika Serikat, tanpa diminta, atas kemauannya sendiri, mengakui status tersebut," kata Wyne sambil menunjukkan bahwa Trump menghidupkan kembali istilah 'G2', yang merujuk pada duo negara adidaya, ketika terakhir kali bertemu Xi di sela-sela pertemuan APEC di Korea Selatan pada bulan Oktober.
Pertemuan pada pekan ini akan memberikan banyak waktu tatap muka antara para pemimpin. Nantinya, mereka dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan di Balai Agung Rakyat, mengunjungi situs warisan UNESCO Kuil Surga, dan menghadiri jamuan makan kenegaraan, sebelum minum teh dan makan siang bersama pada hari Jumat, menurut Gedung Putih.
Namun Trump memasuki perundingan dengan posisi yang melemah, sebab pengadilan AS telah membatasi kemampuannya untuk mengenakan tarif sesuka hati pada ekspor dari China dan negara lain.
Perang Iran juga telah meningkatkan inflasi di dalam negeri dan meningkatkan risiko bahwa Partai Republik Trump akan kehilangan kendali atas satu atau kedua cabang legislatif dalam pemilihan paruh waktu November mendatang.