IDXChannel - Dengan harga energi global yang terus naik, Presiden AS Donald Trump menghadapi pilihan sulit setelah sebulan perang melawan Iran.
Trump dihadapi pilihan, apakah harus membuat kesepakatan yang berpotensi memperburuk keadaan atau meningkatkan eskalasi militer dan mempertaruhkan konflik berkepanjangan yang dapat menghabiskan masa kepresidenannya.
Dilansir dari laman Reuters Minggu (29/3/2026), terlepas dari serangkaian aktivitas diplomatik, Trump mengakhiri kampanye gabungan AS-Israel yang berjuang untuk mengatasi krisis Timur Tengah, karena Iran menantang mempertahankan kendali atas pengiriman minyak dan gas serta terus melakukan serangan rudal dan drone di seluruh wilayah tersebut.
Pertanyaan utamanya sekarang, kata para analis, apakah Trump siap untuk mengurangi atau meningkatkan apa yang disebut sebagai perang pilihan yakni perang yang telah memicu guncangan pasokan energi global terburuk dalam sejarah dan menyebar jauh melampaui kawasan tersebut.
Sebelumnya, Trump telah mengatakan bahwa ia ingin menghindari perang abadi dan menemukan jalan keluar melalui negosiasi. Mendesak mereka untuk menekan durasi permusuhan selama empat hingga enam minggu, kata seorang pejabat senior Gedung Putih.
Pada saat yang sama, Trump telah mengancam akan melakukan eskalasi militer besar-besaran jika pembicaraan gagal.
Bahkan, upaya diplomatik Trump kepada Iran, termasuk proposal perdamaian 15 poin yang dikirim melalui jalur belakang dengan Pakistan, tampaknya menunjukkan adanya jalan keluar. Namun, masih belum jelas apakah saat ini ada prospek untuk negosiasi yang membuahkan hasil.
“Presiden Trump memiliki pilihan yang buruk di semua sisi untuk mengakhiri perang,” kata Jonathan Panikoff, Mantan Wakil Petugas Intelijen Nasional AS untuk Timur Tengah. “Sebagian dari tantangannya adalah kurangnya kejelasan terkait dengan apa yang akan menjadi hasil yang memuaskan," tutur dia.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa kampanye Iran akan berakhir ketika panglima tertinggi menentukan bahwa tujuan kita telah tercapai dan bahwa Trump telah menetapkan tujuan yang eksplisit.
(kunthi fahmar sandy)