Hal terpenting, kata dia, perbedaan hanya menyangkut masalah-masalah yang sifatnya itu ijtihadi atau teknis saja. Namun, Secara qath'i, tidak berbeda.
Oleh karena itu, peluang adanya memulai puasa atau mengakhiri puasa berbeda, itu menjadi sebuah keniscayaan yang harus bisa dipahami. Sehingga, yang paling penting, keutuhan sebagai umat Islam itu yang harus senantiasa dijaga.
"Oleh karena itu, penting untuk saling memahami dan saling menghormati. Bahkan kalau perlu kita, sebagai bangsa yang demokratis ini, perlu membiasakan diri untuk berbeda. Asal jangan soal prinsipil saja. Asal jangan soal akidah saja. Asal jangan soal qath'i saja," ujarnya.
Menurut dia, perbedaan ini justru menjadi bagian dari dinamika yang memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Perbedaan yang dikelola dengan baik, kata dia, akan menjadi sebuah harmoni yang indah.
"Yang itu juga akan menjadi sesuatu yang penting bagi persatuan Indonesia. Dan persatuan Indonesia itu menjadi bagian penting dari terciptanya stabilitas nasional. Dan stabilitas nasional itu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi memungkinkan kita semuanya, terutama pemerintah dan rakyat, untuk berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi masa depan bangsa kita," kata dia.
(Dhera Arizona)