AALI
9575
ABBA
244
ABDA
0
ABMM
2330
ACES
785
ACST
169
ACST-R
0
ADES
7050
ADHI
815
ADMF
8050
ADMG
172
ADRO
2920
AGAR
324
AGII
2060
AGRO
695
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
57
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
150
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1495
AKRA
1045
AKSI
300
ALDO
835
ALKA
294
ALMI
0
ALTO
204
Market Watch
Last updated : 2022/06/29 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
535.84
-0.33%
-1.77
IHSG
6974.58
-0.31%
-21.88
LQ45
1004.25
-0.34%
-3.39
HSI
22186.19
-1.04%
-232.78
N225
26759.99
-1.07%
-289.48
NYSE
14667.32
-1.13%
-167.98
Kurs
HKD/IDR 1,889
USD/IDR 14,835
Emas
868,327 / gram

Kemenkes Sebut 63,25 Persen Jamaah Haji RI Berisiko Tinggi Alami Sakit

SYARIAH
Kevi Laras
Senin, 20 Juni 2022 14:30 WIB
Kemenkes mengungkapkan bahwa sebanyak 39.125 jamaah atau 63.25 persen, berisiko tinggi mengalami sakit.
Kemenkes Sebut 63,25 Persen Jamaah Haji RI Berisiko Tinggi Alami Sakit
Kemenkes Sebut 63,25 Persen Jamaah Haji RI Berisiko Tinggi Alami Sakit

IDXChannel - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan bahwa sebanyak 39.125 jamaah atau 63.25 persen, berisiko tinggi mengalami sakit. Hal tersebut disampaikan oleh dr Aris Yudhariansyah, tim promosi kesehatan (promkes).

Aris mengatakan, berdasarkan deteksi dini tim promosi kesehatan sudah memberikan penyuluhan kepada 2.343 jamaah haji. Di mana tim promkes menemukan ada 269 kasus panyakit yang dialami jamaah haji.

"Dari 269 kasus ini, lima sampai empat kasus adalah gangguan kardiovaskuler sementara satu kasus dari penyakit degeneratif lain seperti diabetes dan hipertensi,” kata dr Aris dalam laman resmi Kemenkes, Senin (20/6/2022)

Sejauh ini, sudah 99 kelompok terbang (kloter) yang tiba di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMAA). Data tersebut hasil rekap dari tim promosi kesehatan (promkes), pada Jumat (17/6) pukul 14.00 WAS. 

“Dari 99 kelompok terbang (kloter) yang sudah tiba di Bandara AMAA ada 39.125 jamaah dengan persentase jemaah risti  63,25 persen,” katanya.

Dengan demikian, ia menyarankan, agar jamaah mempunyai penyakit-penyakit yang termasuk dalam golongan risiko tinggi, di tanah air bisa lebih mempersiapkan diri dan kesehatannya. Jadi peran dokter pemeriksa awal mulai dari Puskesmas di daerah itu, harusnya lebih lebih ketat lagi.

Di mana ketika jamaah dilakukan pemeriksaan oleh dokter di embarkasi, maka hasilnya tinggal final cek kesehatan saja berdasarkan hasil medical record yang sudah didapat dari daerah. “Sehingga kriteria risiko tinggi itu sudah disematkan dan sudah diobservasi sejak pemeriksaan pertama kesehatan jemaah haji,” jelas dr Aris.

"Berdasarkan pemeriksaan free flight itu bisa diputuskan dengan cepat ini jamaah haji layak atau tidak layak melakukan perjalanan ke Saudi Arabia,” ucapnya. 

(NDA) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD