AALI
10025
ABBA
406
ABDA
0
ABMM
1535
ACES
1415
ACST
272
ACST-R
0
ADES
2570
ADHI
1155
ADMF
7950
ADMG
234
ADRO
1735
AGAR
350
AGII
1470
AGRO
2020
AGRO-R
0
AGRS
210
AHAP
65
AIMS
500
AIMS-W
0
AISA
232
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
795
AKRA
4660
AKSI
458
ALDO
720
ALKA
250
ALMI
238
ALTO
300
Market Watch
Last updated : 2021/10/22 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
516.22
0.19%
+0.98
IHSG
6643.74
0.16%
+10.77
LQ45
970.79
0.27%
+2.64
HSI
26126.93
0.42%
+109.40
N225
28804.85
0.34%
+96.27
NYSE
17132.22
0.29%
+49.07
Kurs
HKD/IDR 1,814
USD/IDR 14,120
Emas
813,779 / gram

Perbankan Syariah di Sumbagsel Tumbuh 15,95 Persen

SYARIAH
Dede Febriansyah
Kamis, 11 November 2021 07:44 WIB
OJK Regional 7 Sumbagsel menyatakan pangsa pasar perbankan syariah di Sumatera mengalami pertumbuhan pesat, bahkan mencapai 15,95 persen.
Perbankan Syariah di Sumbagsel Tumbuh 15,95 Persen. (Foto: MNC Media)
Perbankan Syariah di Sumbagsel Tumbuh 15,95 Persen. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - OJK Regional 7 Sumbagsel menyatakan pangsa pasar perbankan syariah di Sumatera mengalami pertumbuhan pesat, bahkan mencapai 15,95 persen. Hal ini juga berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan di dalam situasi pandemi Covid-19.

"Perbankan syariah di Sumbagsel berada di angka 15,97 persen di atas angka nasional yang hanya 8,93 persen," ujar Direktur Pengawasan OJK Regional 7 Sumbagsel, Iwan M Ridwan, Kamis (11/11/2021).

Menurutnya, meski persentase keuangan tumbuh positif sejak Juli 2021, perbankan syariah tetap membutuhkan pengembangan di beberapa sektor seperti pengawasan ekspansi kegiatan mobilitas syariah, sinergi ekosistem ekonomi syariah serta penguatan perizinan, pengaturan, penguatan identitas.

"Tren total keuangan syariah di Sumbagsel didominasi pasar modal dengan kinerja perbankan di angka 13,8 persen untuk aset, kemudian pembiayaan 12,5 persen dengan NPF 1,7 persen," jelasnya.

Sementara itu, Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo menjelaskan, perekonomian syariah saat ini sedang transisi proses pemulihan dari resesi akibat pandemi COVID-19.

"Tekanan perekonomian sempat terjadi saat lonjakan kasus pada Juli-Agustus, pada gelombang kedua COVID-19. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di Kuartal III 2021 turun 3,15 persen dengan kontraksi transportasi, akomodasi, serta konsumsi rumah tangga," ucapnya.

Meski ada lonjakan kasus COVID-19, lanjut Banjaran, perbankan syariah justru mendapatkan opsi peningkatan pembiayaan untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional.

"Pada Juli 2021, minat perbankan syariah dan industri halal berada di angka 16,35 persen dengan pengumpulan aset senilai Rp632 triliun. Dan pada Agustus terjadi peningkatan sebesar Rp635 triliun," ungkapnya.

Akademisi Sumsel sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Heri Junadi mengungkapkan, bahwa market share syariah belum bisa mengejar kecepatan pertumbuhan ekonomi perbankan syariah. Oleh karena itu, potensi perbankan syariah perlu dikaji lebih mendalam.

"Bank syariah belum sampai pelosok, inklusi, dan literasi syariah masih rendah. Banyak yang mengetahui hanya soal riba saja, tetapi masyarakat tidak memahami dampak positif dari layanan lainnya,"

Padahal, kata Heri, pertumbuhan dan kontribusi keuangan syariah di Sumatera di angka 21,36 persen atau menjadi nomor kedua setelah Jawa. Semestinya, peluang pengembangan syariah di Sumatera mampu dimanfaatkan secara optimal.

"Seperti memanfaatkan potensi pesantren, sehingga pasar bisnis di Sumatera kian luas atau memberikan literasi syariah di pedesaan dengan menggandeng banyak pihak agar ada penguatan perbankan syariah," katanya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD