AALI
9300
ABBA
278
ABDA
0
ABMM
2470
ACES
690
ACST
161
ACST-R
0
ADES
6225
ADHI
775
ADMF
8200
ADMG
175
ADRO
3130
AGAR
312
AGII
2310
AGRO
855
AGRO-R
0
AGRS
119
AHAP
107
AIMS
248
AIMS-W
0
AISA
146
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1620
AKRA
1200
AKSI
274
ALDO
770
ALKA
300
ALMI
290
ALTO
194
Market Watch
Last updated : 2022/08/05 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.59
0.44%
+2.37
IHSG
7084.66
0.39%
+27.31
LQ45
1007.80
0.4%
+4.03
HSI
20201.94
0.14%
+27.90
N225
28175.87
0.87%
+243.67
NYSE
0.00
-100%
-15267.16
Kurs
HKD/IDR 545
USD/IDR 14,925
Emas
858,734 / gram

Restrukturisasi Kredit Bakal Berakhir, The Big Four Perbankan RI Kompak Lakukan Ini

BANKING
Anggie Ariesta
Rabu, 03 Agustus 2022 11:43 WIB
rampungnya kebijakan berupa fasilitas restrukturisasi itu, maka otomatis bakal mengembalikan aturan kinerja kredit pada ketentuan normal seperti sebelum pandemi
Restrukturisasi Kredit Bakal Berakhir, The Big Four Perbankan RI Kompak Lakukan Ini (foto: MNC Media)
Restrukturisasi Kredit Bakal Berakhir, The Big Four Perbankan RI Kompak Lakukan Ini (foto: MNC Media)

IDXChannel - Kebijakan pemerintah yang memberikan pelonggaran terkait aktivitas kredit perbankan seiring dengan terjadinya pandemi COVID-19 bakal segera berakhir pada Maret 2023 mendatang.

Dengan rampungnya kebijakan berupa fasilitas restrukturisasi itu, maka otomatis bakal mengembalikan aturan kinerja kredit pada ketentuan normal seperti saat sebelum pandemi. Kondisi ini diyakini bakal berpotensi menekan catatan kinerja kredit perbankan, sehingga diperlukan sejumlah langkah mitigasi.

Bersiap atas bakal terjadinya kondisi tersebut, para pelaku industri perbankan pun kini sibuk meningkatkan alokasi pencadangan guna mengantisipasi kebijakan tersebut. Hal itu terutama juga dilakukan oleh empat bank terbesar di Indonesia, yang kerap dijuluki sebagai The Big Four perbankan RI.

Misalnya saja mitigasi yang sedang dilakukan oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Menurut Direktur Utama BMRI, Darmawan Junaidi, pihaknya berhasil menjaga perbaikan kredit lewat monitoring serta manajemen risiko yang ketat. Hingga pertengahan tahun 2022 posisi rasio NPL Bank Mandiri turun menjadi 2,47 persen.

Tak hanya itu, berkat optimalisasi kualitas aset serta efisiensi, biaya kredit atau cost of credit (CoC) Bank Mandiri pun berhasil ditekan menjadi 1,27 persen pada semester I-2022.

"Dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri telah menjalankan proses mitigasi dengan menerapkan prinsip kehati-hatian termasuk menjaga rasio pencadangan dalam posisi yang mencukupi," ujarnya, saat dikonfirmasi, Selasa (2/8/2022).

Hingga akhir Juni 2022 posisi restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 di Bank Mandiri kian melandai menjadi Rp58,2 triliun. Jumlah tersebut sudah jauh lebih rendah dari posisi Juni 2021 sebesar Rp 96,5 triliun.

Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri, Ahmad Siddik Badruddin, mengatakan penurunan ini didorong oleh pelunasan dan pembayaran cicilan para debitur, dan bisnis usaha para debitur sudah kembali pada kondisi normal. Sehingga, para debitur tersebut memutuskan untuk menyelesaikan program restrukturisasinya.

Selain itu, perseroan akan terus mengurangi restrukturisasi hingga akhir tahun. Sebab, sesuai aturan OJK relaksasi tersebut akan berakhir pada Maret 2023. Jika relaksasi tersebut tidak akan diperpanjang, perseroan sudah siap.

"Dari total portofolio kredit, LAR include restrukturisasi turun 15,12% dari total portofolio dan akan turun 14-15% sampai akhir tahun. Kami sudah siap apabila kebijakan relaksasi restrukturisasi kredit tidak diperpanjang oleh OJK," pungkasnya.

Senada, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), Sunarso juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan pencadangan atas pemburukan kredit apabila kebijakan restrukturisasi akibat Covid-19 dicabut OJK pada Maret tahun depan. BRI mengantisipasi agar rasio kredit bermasalah tidak membengkak.

“Jika terjadi apa-apa dengan NPL, NPL coverage kami 266,26 persen (semester I-2022). Kami sediakan 2,66 kali cadangan terhadap NPL, jika NPL tidak terbayar, deposan masih aman karena kami cadangkan di modal 2,66 kali. Coverage ini meningkat dibandingkan semester I-2021 yang sebesar 2,53 kali,” ungkap Sunarso.

Pada semester I-2022, NPL gross BRI Group berads di level 3,26 persen. Sebagai bank yang fokus pada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), angka NPL ini cenderung terjaga mengingat risiko dari UMKM juga tinggi. 

“Lebih dari 80 persen portofolio kami di UMKM, dengan NPL terjaga di kepala tiga. Ini bisa dikatakan sangat manageable. Karena main di segmen UMKM itu berurusan dengan tingginya NPL, dengan dikelola pada kepala 3 artinya risk management berjalan dengan baik,” jelas Sunarso.

Senada dengan BRI, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Vera Eve Lim, juga mengatakan bahwa pencadangan yang dialokasikan perseroan meningkat pada paruh kedua tahun ini. Meskipun tren restrukturisasi kredit terus mengalami penurunan, pencadangan yang dilakukan BCA naik. 

“Pencadangan terhadap loan at risk (LaR) coverage 47,9 persen, meningkat dari semester I-2021 yang 32 persen. Pencadangan ini lebih dari cukup untuk mengantisipasi (penurunan kualitas kredit),” ungkap Vera.

Untuk NPL gross BCA sampai dengan paruh pertama tahun ini berada di posisi 2,2 persen. Rasio ini menurun dari posisi sama tahun lalu yang sebesar 2,4 persen. Perbaikan kualitas kredit ini juga menunjukkan pemulihan dari sisi debitur restrukturisasi kredit BCA, karena sudah tidak ada penambahan permohonan restrukturisasi akibat Covid-19. 

“Ini juga kami perkirakan di akhir tahun kisaran ini. NPL ini back to ke sebelum pandemi, ini kabar yang menggembirakan juga seiring perbaikan ekonomi,” imbuh Vera.

Total LaR BCA terhadap kredit juga terus menurun sejalan perbaikan kinerja debitur perseroan. Sampai dengan Juni 2022 LaR tercatat 12,3 persen, membaik dibandingkan akhir Desember 2021 yang sebesar 14,6 persen.

Sementara, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) juga mencatatkan perbaikan kredit yang di restrukturisasi, di mana LaR termasuk restrukturisasi COVID-19 sebesar 19,6 persen per Juni 2022, membaik dari Juni 2021 sebesar 25,9 persen. 

Dengan LaR coverage ratio (termasuk akibat COVID-19) sebesar 42,3 persen, pencadangan tersebut lebih tinggi dibandingkan semester I-2021 yang sebesar 32,9 persen. Sedangkan NPL coverage ratio BNI pada Juni 2022 di posisi 263,3 persen, lebih tinggi dari Juni 2021 sebesar 215,3 persen. 

Sebelumnya, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri telah memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 8,5 persen pada 2023. Hal ini seiring pemulihan ekonomi yang sudah terlihat pada tahun ini.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengatakan bahwa jumlah debitur dan kredit yang direstrukturisasi terus menurun. Kredit yang direstrukturisasi akibat pandemi dari jumlah nilai dan debitur juga terus menurun dalam jumlah signifikan.

Hal sama juga terjadi dengan catatan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dari kredit restrukturisasi itu yang mengalami tren penurunan. 

"Sedangkan rasio CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) yang untuk restrukturisasi sebaliknya terus meningkat. Ini kapasitas bank untuk melakukan itu (pencadangan) terus meningkat dan membaik,” kata Mahendra, dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Senin (1/8/2022). (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD