IDXChannel - Risalah Fed menunjukkan para pembuat kebijakan melihat adanya kemungkinan kenaikan suku bunga AS.
Dilansir dari laman Investing Kamis (21/5/2026), para pedagang pasar obligasi dan pengamat kebijakan moneter juga menerima risalah pertemuan Federal Reserve bulan April pada hari Rabu.
Risalah tersebut menunjukkan bahwa mayoritas peserta Komite Pasar Terbuka Federal percaya bahwa kenaikan suku bunga kemungkinan akan menjadi tepat jika inflasi terus berlanjut di atas target 2 persen bank sentral.
Data inflasi baru-baru ini menunjukkan dampak yang jelas dari lonjakan harga minyak terhadap harga konsumen dan produsen. Pertumbuhan indeks harga konsumen tahunan AS bulan lalu mencapai level tertinggi sejak Mei 2023, sementara indeks harga produsen tahunan mencatat peningkatan terbesar sejak Desember 2022.
Dengan latar belakang ini dan meningkatnya ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di seluruh dunia, diskusi tentang kemungkinan kenaikan suku bunga dalam notulen rapat The Fed bukanlah hal yang mengejutkan.
Notulen tersebut juga muncul pada saat The Fed berada dalam mode transisi. Masa jabatan Jerome Powell sebagai ketua The Fed berakhir Jumat lalu dan penggantinya (pilihan Trump) Kevin Warsh diperkirakan segera dilantik.
Warsh akan mengambil alih jabatan pada saat Trump secara terbuka mendesak bank sentral untuk menurunkan suku bunga, tetapi skenario seperti itu tampaknya sangat tidak mungkin saat ini mengingat konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Menurut alat CME FedWatch, pasar sebagian besar melihat The Fed mempertahankan suku bunga tetap stabil sepanjang tahun ini. Alat tersebut juga menunjukkan ekspektasi kenaikan suku bunga meningkat dari Juli hingga Desember.
(kunthi fahmar sandy)