AALI
9725
ABBA
190
ABDA
0
ABMM
2390
ACES
800
ACST
170
ACST-R
0
ADES
7700
ADHI
805
ADMF
8100
ADMG
176
ADRO
2960
AGAR
324
AGII
2100
AGRO
770
AGRO-R
0
AGRS
122
AHAP
56
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
151
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1535
AKRA
1070
AKSI
290
ALDO
860
ALKA
294
ALMI
292
ALTO
214
Market Watch
Last updated : 2022/06/27 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.46
-0.84%
-4.57
IHSG
7016.06
-0.38%
-26.88
LQ45
1010.74
-0.81%
-8.25
HSI
22229.52
2.35%
+510.46
N225
26871.27
1.43%
+379.30
NYSE
14811.55
2.84%
+409.43
Kurs
HKD/IDR 1,884
USD/IDR 14,800
Emas
873,287 / gram

Tahan Suku Bunga, BI Mulai Antisipasi Terjadinya Stagflasi

BANKING
Taufan Sukma/IDX Channel
Kamis, 23 Juni 2022 16:18 WIB
Ancaman ini terutama mengintai perekonomian negara-negara di kawasan Asia.
Tahan Suku Bunga, BI Mulai Antisipasi Terjadinya Stagflasi (foto: MNC Media)
Tahan Suku Bunga, BI Mulai Antisipasi Terjadinya Stagflasi (foto: MNC Media)

IDXChannel - Seperti diprediksi banyak pihak, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) edisi Juni 2022 kembali memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) di level 3,5 persen. Tak hanya itu, Bank Indonesia (BI) juga menahan suku bunga deposit facility sebesar 2,75 persen, serta suku unga lending facility sebesar 4,25 persen.

"Keputusan ini sejalan dengan perlunya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta tetap mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah naiknya tekanan eksternal terkait meningkatnya risiko stagflasi di berbagai negara," ujar Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam keterangan resminya, Kamis (23/6/2022).

Menurut Perry, pihaknya tidak akan terburu-buru menaikkan suku bunga acuan di tengah pengetatan kebijakan moneter global. Perry juga menegaskan bahwa tingkat inflasi domestik masih aman terkendali, dengan perkiraan inflasi di kisaran 4,2 persen pada tahun ini.

Perry juga mengakui bahwa perekonomian dunia tengah dihantui risiko terjadinya stagflasi, yaitu kondisi inflasi yang melonjak tinffi namun tidak dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang sesuai. Ancaman ini terutama mengintai perekonomian negara-negara di kawasan Asia.

"Dari sisi inflasi, kenaikan (harga) terjadi sebagai dampak dari konflik geopolitik Rusia-Ukraina yang menyebabkan pemberlakuan kebijakan zero tolerance," tutur Perry.

Di lain pihak, sejumlah negara juga mulai menerapkan kebijakan proteksionisme guna mengamankan kepentingan domestiknya masing-masing. Kebijakan ini terutama dilakukan dalam hal pasokan pangan, seiring makin terbatasnya pasokan bahan makanan dan energi akibat konflik Rusia-Ukraina.

"Kondisi ini menahan perbaikan gangguan rantai pasokan global. Plus, guna menekan potensi inflasi di negara masing-masing, sejumlah bank sentral juga menerapkan pengetatan kebijakan moneter secara agresif, sehingga menahan pemulihan ekonomi global, sekaligus meningkatkan risiko stagflasi," tukas Perry. (TSA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD