AALI
9725
ABBA
394
ABDA
0
ABMM
1420
ACES
1220
ACST
232
ACST-R
0
ADES
3000
ADHI
1025
ADMF
7725
ADMG
198
ADRO
1815
AGAR
330
AGII
1505
AGRO
1925
AGRO-R
0
AGRS
176
AHAP
81
AIMS
456
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
4190
AKSI
424
ALDO
1035
ALKA
244
ALMI
250
ALTO
272
Market Watch
Last updated : 2021/12/03 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
501.87
-1.3%
-6.63
IHSG
6538.51
-0.69%
-45.31
LQ45
938.93
-1.11%
-10.56
HSI
23766.69
-0.09%
-22.24
N225
28029.57
1%
+276.20
NYSE
0.00
-100%
-16133.89
Kurs
HKD/IDR 1,845
USD/IDR 14,395
Emas
819,409 / gram

Jangan Panik! Ini Panduan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19

ECONOMIA
Minggu, 11 Juli 2021 14:53 WIB
Meningkatnya kasus Covid-19 saat ini membuat terjadinya penumpukan jumlah pasien positif di rumah sakit maupun tempat singgah yang disiapkan oleh Pemerintah
Jangan Panik! Ini Panduan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19. (Foto: MNC Media)
Jangan Panik! Ini Panduan Isolasi Mandiri Pasien Covid-19. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Meningkatnya kasus Covid-19 belakangan ini membuat terjadinya penumpukan jumlah pasien positif di rumah sakit maupun tempat singgah yang disiapkan oleh Pemerintah. Hal ini membuat Pemerintah memutuskan pasien dalam kriteria tertentu diberi pilihan melakukan karantina dan isolasi mandiri di rumah.

Mengutip laman resmi Kimia Farma, Minggu (11/7/2021), menurut Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, tidak semua pasien Covid-19 harus ke rumah sakit untuk mendapat penanganan lanjut hanya pasien dengan gejala berat dan sedang yang berhak didahulukan untuk mendapatkan penanganan, baik isolasi maupun perawatan intensif di rumah sakit.

1. Lalu kapan seseorang harus melakukan karantina dan isolasi?

Menurut Keputusan Menkes No HK.01.07/MENKES/4641/2021 tentang Panduan Pelaksanaan Pemeriksaan, Pelacakan, Karantina, dan Isolasi Dalam Pencegahan COVID-19, karantina dilakukan sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat atau memenuhi kriteria kasus suspek yang tidak memerlukan perawatan Rumah Sakit. 

Idealnya dalam waktu tidak lebih dari 24 jam sejak seseorang diidentifikasi sebagai kontak erat dan dalam waktu tidak lebih dari 48 jam sejak kasus indeks terkonfirmasi.

2. Berapa lama isolasi atau karantina harus dilakukan?

Penanganan pasien positif COVID-19 yang tidak bergejala akan diimbau untuk isolasi mandiri di rumah atau di RS Darurat. Isolasi minimal 10 hari sejak ditegakkan diagnosis.Setelah isolasi 10 hari maka pasien dinyatakan selesai isolasi.

Lain hal nya dengan pasien positif COVID-19 dengan gejala sakit ringan-sedang. Pasien diimbau untuk isolasi mandiri di rumah, RS Darurat, RS, maupun RS Rujukan COVID-19. Isolasi minimal 10 hari sejak munculnya gejala ditambah 3 hari bebas demam dan gejala pernapasan. 

Setelah itu pasien dinyatakan selesai isolasi. Bagi pasien positif COVID-19 dengan gejala sakit berat akan diisolasi di rumah sakit atau rumah sakit rujukan. Pasien diisolasi minimal 10 hari sejak muncul gejala ditambah 3 hari bebas demam dan gejala pernapasan. Pasien akan dilakukan lagi tes swab jika hasilnya negatif maka pasien akan dinyatakan sembuh.

3. Bagaimana panduan isolasi mandiri yang aman?

Kementrian Kesehatan membuat protokol isolasi mandiri Covid-19, diantaranya:

a. Selama di rumah, gunakan kamar terpisah dari anggota keluarga lainnya, dan jaga jarak 1 meter dari anggota keluarga
b. Lalu memakai masker dan membuang masker bekas di tempat yang ditentukan
c. Terapkan perilaku hidup sehat dan bersih, serta konsumsi makanan bergizi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan lakukan etika batuk dan bersin.
d. Jaga kebersihan dan kesehatan rumah dengan cairan desinfektan. Selalu berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi (±15-30 menit)
e. Jika sakit (ada gejala demam, flu dan batuk), maka tetap di rumah. Jangan pergi bekerja, sekolah, ke pasar atau ke ruang publik untuk mencegah penularan masyarakat
f. Tentukan pengecekan suhu harian, amati batuk dan sesak nafas. Hindari pemakaian bersama peralatan makan dan mandi dan tempat tidur.
g. Manfaatkan fasilitas telemedicine atau sosial media kesehatan dan hindari transportasi publik. Beritahu dokter dan perawat tentang keluhan dan gejala, serta riwayat bekerja ke daerah terjangkit atau kontak dengan pasien COVID-19
h. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit berlanjut seperti sesak nafas dan demam tinggi, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

4. Apa yang harus dilakukan pasien Covid-19 untuk tetap mendapat perawatan selama isolasi mandiri?

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin saat Konferensi Pers secara virtual, Senin (5/7/2021). Menyatakan, pasien yang melakukan isolasi mandiri untuk tetap memperoleh layanan Kesehatan. Layanan Kesehatan ini berupa telemedicine yang merupakan konsultasi kesehatan secara virtual yang bisa diakses kapan pun dan dimana pun oleh pasien. Untuk tahap awal, fasilitas ini hanya berlaku untuk area Jakarta.

Kementerian Kesehatan juga bekerjasama dengan 11 platform telemedicine untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan juga jasa pengiriman obat secara gratis yang dibantu ditanggung oleh teman-teman telemedicine, startup, dan juga Kementerian Kesehatan.

Dokter bisa mengidentifikasi pasien berdasarkan hasil konsultasi, untuk selanjutnya dilakukan penanganan berdasarkan kondisi pasien. Melalui layanan ini, rumah sakit bisa melakukan skrining awal untuk pasien dengan gejala sedang/berat termasuk pemberian paket obatnya melalui fasilitas pelayanan kefarmasian yang ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan. 

Paket obat akan dikirimkan secara gratis untuk yang benar-benar tanpa gejala, sedangkan pasien dengan gejala, misalnya demam sedikit, akan diberikan juga paketnya secara gratis. Tak hanya itu, platform telemedicine ini juga terintegrasi dengan laboratorium testing PCR. Bagi pasien yang ingin melakukan uji PCR bisa dilakukan melalui form telemedicine yang tersedia. (SNP)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD