Ia menambahkan, Indonesia juga memperkuat pasokan energi dari berbagai negara seperti Afrika, Amerika Serikat, dan Venezuela, serta meningkatkan kapasitas biofuel domestik.
Pemerintah juga mendorong peningkatan bauran biodiesel hingga Bio 50, yang disebut dapat mengurangi ketergantungan impor energi.
“Artinya tidak akan ada lagi impor energi solar,” ujarnya.
Selain energi, pemerintah memperkuat sektor pupuk dan pangan, termasuk menjaga produksi dan ekspor pupuk ke sejumlah negara seperti India, Australia, dan Filipina.
Airlangga menegaskan, konsumsi domestik yang mencapai sekitar 54 persen dari permintaan nasional menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global.
“Indonesia perlu tumbuh setidaknya 6,7 persen. Itulah mengapa Presiden sangat bersemangat untuk mendorong kita melampaui batas terlepas dari dalam situasi global,” katanya.
Di sisi lain, pemerintah mendorong penguatan sumber daya manusia dan transformasi digital, termasuk pengembangan ekosistem semikonduktor sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Ia menambahkan, aksesi Indonesia ke OECD menjadi salah satu prioritas strategis nasional untuk memperkuat standar kebijakan dan menarik investasi berkualitas.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis Indonesia dapat menjaga ketahanan ekonomi sekaligus mempercepat transformasi menuju negara maju pada 2045.
Reporter: Nasywa Salsabila
(Febrina Ratna Iskana)