IDXChannel - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) merespons kabar mengenai banyaknya relokasi fasilitas produksi pabrik otomotif asal Jepang dari Indonesia menuju Vietnam. Kalangan dunia usaha menegaskan fenomena pergeseran investasi tersebut harus dilihat secara jernih sebagai bagian dari strategi efisiensi korporasi multinasional, bukan perpindahan operasional secara mendadak.
"Banyaknya investasi yang beralih ke Vietnam itu bukan (hanya) hari ini, maksudnya dari dulu itu memang kita selalu berkompetisi dan berdaya saing dengan Vietnam. Jadi sebenarnya kalau dikatakan hari ini pindah ke Vietnam itu tidak tepat. Jadi memang sekarang banyak terjadi konsolidasi daripada multinasional. Jadi mungkin yang tadinya punya pabrik ada lima, mungkin dikonsolidasikan menjadi dua atau tiga, seperti itu," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, saat ditemui di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Shinta menjelaskan bahwa proses perampingan jumlah pabrik operasional oleh korporasi global merupakan bagian dari efisiensi pasar yang lumrah terjadi.
Kendati pola konsolidasi global tersebut tengah berlangsung, dia optimistis Indonesia masih memiliki posisi tawar yang cukup kuat untuk mempertahankan basis produksi manufaktur otomotif yang sudah eksis di dalam negeri agar tidak hengkang sepenuhnya.
Langkah penyehatan struktur bisnis oleh perusahaan global tersebut dinilai wajar terjadi di tengah ketatnya persaingan investasi di tingkat regional. Indonesia kini dituntut untuk segera membenahi berbagai hambatan birokrasi agar daya tarik investasi domestik tidak semakin tertinggal dari negara tetangga.
"Kedua, kalau dari segi yang daya tarik, ini yang mungkin menjadi pekerjaan rumah kita ya, karena World Bank juga sudah memberikan survei perbandingan Indonesia dengan negara lain dari segi investasi, gitu. Jadi kesiapan perizinan, regulasi, dan lain-lain, ini juga menjadi catatan. Memang Vietnam mungkin karena negaranya juga lebih kecil, juga bisa mempermudah investor untuk masuk ke sana," kata Shinta.
Untuk mengejar ketertinggalan regulasi dan perizinan tersebut, Apindo bergerak aktif menyusun langkah konkret sebagai solusi jangka panjang. Saat ini, organisasi pengusaha tersebut sedang menginisiasi sebuah proyek percontohan program industrialisasi nasional dengan menggandeng Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Wilayah Jawa Tengah sengaja dipilih sebagai pusat percontohan karena memiliki konsentrasi kawasan ekonomi yang sangat bervariasi dan potensial untuk dikembangkan.
Untuk merumuskan formula daya saing yang tepat, asosiasi pengusaha kini tengah merancang proyek percontohan industrialisasi berbasis kawasan ekonomi khusus. Kajian mendalam akan difokuskan pada perbandingan struktur biaya operasional secara langsung dengan sistem yang diterapkan oleh Vietnam.
"Ini kita bisa buatkan perbandingan, kita sekarang buat benchmarking. Sebenarnya apa sih yang dilakukan Vietnam? Insentif seperti apa yang mendorong investasi ke sana? Apa kemudahan-kemudahan berusaha yang disiapkan di Vietnam? Bagaimana dengan cost-nya, biaya? Kenapa cost mereka lebih rendah dibandingkan Indonesia? Apakah itu hubungannya dengan energy cost, labor cost, atau logistic cost? Ini semua harus kita perbandingkan," kata Shinta.
Adapun sebelumnya, berembus isu dua korporasi komponen otomotif asal Jepang bersiap hengkang dari operasional pabriknya di Jawa Timur. Isu itu diungkapkan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).
Isu itu muncul pula lantaran prinsipal asal Jepang banyak mempertimbangkan pemindahan sebagian produksi ke negara lain, tak terkecuali Vietnam. Lanskap berubahnya arah industri menuju mobil listrik turut memengaruhi keputusan hengkangnya korporasi asing.
(NIA DEVIYANA)