AALI
8825
ABBA
236
ABDA
6025
ABMM
4370
ACES
625
ACST
197
ACST-R
0
ADES
7050
ADHI
760
ADMF
8525
ADMG
166
ADRO
3900
AGAR
302
AGII
2370
AGRO
620
AGRO-R
0
AGRS
100
AHAP
106
AIMS
250
AIMS-W
0
AISA
148
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1585
AKRA
1305
AKSI
322
ALDO
700
ALKA
296
ALMI
404
ALTO
177
Market Watch
Last updated : 2022/09/26 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
534.47
-1.37%
-7.44
IHSG
7080.60
-1.36%
-97.98
LQ45
1011.69
-1.36%
-13.94
HSI
18025.82
0.52%
+92.55
N225
26619.53
-1.97%
-534.30
NYSE
13796.99
-2.26%
-319.60
Kurs
HKD/IDR 1,914
USD/IDR 15,031
Emas
792,736 / gram

AS Kaji Kembali Penerapan Tarif Dagang China Usai Ketegangan Meningkat di Taiwan

ECONOMICS
Febrina Ratna
Kamis, 11 Agustus 2022 12:15 WIB
Latihan perang China di sekitar Taiwan telah mendorong pejabat AS mempertimbangkan kembali penerapan tarif dagang.
AS Kaji Kembali Penerapan Tarif Dagang China Usai Ketegangan Meningkat di Taiwan. (Foto: MNC Media)
AS Kaji Kembali Penerapan Tarif Dagang China Usai Ketegangan Meningkat di Taiwan. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Latihan perang China di sekitar Taiwan telah mendorong pejabat Amerika Serikat (AS) mempertimbangkan kembali penerapan tarif dagang. Padahal Presiden AS Joe Biden sebelumnya berencana menghapus sejumlah tarif terhadap barang impor China.

Tim Presiden Joe Biden telah bekerja selama berbulan-bulan dengan berbagai cara untuk meringankan biaya bea masuk yang dikenakan pada barang dari China. Langkah itu sebagai upaya untuk menekan inflasi yang meroket.

Kebijakan itu berbalik dari penerapan tarif dagang ada masa jabatan pendahulunya Donald Trump. Selain itu, Biden mempertimbangkan kombinasi untuk menghilangkan beberapa tarif, meluncurkan penyelidikan "Bagian 301" baru ke area potensial untuk tarif tambahan, dan memperluas daftar pengecualian tarif untuk membantu perusahaan AS yang hanya bisa mendapatkan pasokan tertentu dari China.

Pejabat Gedung Putih mengatakan Biden belum membuat keputusan tentang masalah ini dan semua opsi tetap ada di atas meja.

"Presiden belum membuat keputusan sebelum peristiwa di Selat Taiwan dan masih belum membuat keputusan, titik. Tidak ada yang ditunda atau ditunda, dan semua opsi tetap ada di atas meja," kata juru bicara Gedung Putih Saloni Sharma. "Satu-satunya orang yang akan membuat keputusan adalah presiden - dan dia akan melakukannya berdasarkan apa yang menjadi kepentingan kita," ujarnya dilansir dari Reuters, Senin (11/8/2022).

Halaman : 1 2
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD