AALI
12200
ABBA
189
ABDA
6250
ABMM
3010
ACES
985
ACST
159
ACST-R
0
ADES
5825
ADHI
695
ADMF
8050
ADMG
179
ADRO
3120
AGAR
330
AGII
1995
AGRO
915
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
62
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
157
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
1015
AKSI
350
ALDO
895
ALKA
294
ALMI
294
ALTO
195
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
540.99
-0.42%
-2.28
IHSG
6885.67
-0.41%
-28.47
LQ45
1012.33
-0.35%
-3.60
HSI
20079.32
-0.16%
-32.78
N225
26713.08
-0.13%
-35.06
NYSE
15290.38
1.69%
+254.51
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
876,842 / gram

Bahlil Sebut Ada "Hantu" Penghambat Investasi di RI

ECONOMICS
Athika Rahma
Selasa, 25 Januari 2022 17:48 WIB
Keberadaan "hantu", seperti pungli, menjadi momok bagi masuknya investasi asing di tanah air.
Bahlil Sebut Ada
Bahlil Sebut Ada "Hantu" Penghambat Investasi di RI. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Keberadaan "hantu", seperti pungli, menjadi momok bagi masuknya investasi asing di tanah air. Hal itu diungkapkan langsung oleh Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadia.

Untuk itu, Bahli mengaku pemerintah tengah menyempurnakan sistem perizinan melalui Online Single Submission (OSS). Sehingga seluruh proses perizinan yang dilakukan melalui OSS ini lebih mudah dan transparan.

Bahlil bercerita, saat dirinya baru menjadi Kepala BKPM, terdapat investasi mangkrak yang nilainya mencapai Rp708 triliun.

"Saya heran, saya tanya ini investasi kenapa mangkrak. Karena kalau kita pengusaha, kalau ada opportunity yang bagus kenapa nggak kita tangkap," ujarnya dalam Indonesia Economic Outlook 2022 HIPMI, Selasa (25/1/2022).

Awalnya, dia mengira rencana investasi asing ini tersendat kendala bahasa. Menurut pemahamannya, untuk mengurus perizinan investasi, minimal petugasnya harus menguasai lima bahasa.

"Tapi ternyata, Rp708 triliun mangkrak ini bukan persoalan bahasa. Tapi aturan tumpang tindih pusat dan daerah, ego sektoral dan 'hantu-hantu', pemain lapangan, urusan tanah dan lain-lain," katanya.

'Hantu-hantu' ini membuat proses investasi yang awalnya sudah rumit karena birokrasi menjadi semakin rumit. Lanjut Bahlil, ide mengembangkan sistem perizinan OSS ini menjadi solusi 'mengusir hantu-hantu' tersebut.

"Saya punya keyakinan, yang bisa menyelesaikan ini orang yang pernah jadi 'hantu' atau pernah belajar jadi 'hantu' dan itu tidak ada sekolahnya," pungkasnya. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD