IDXChannel - Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memberikan catatan kritis terhadap efektivitas kesepakatan Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Meski pemerintah mengklaim kesepakatan ini sebagai terobosan, CSIS menilai dampaknya terhadap total perdagangan Indonesia masih sangat terbatas.
Peneliti Departemen Ekonomi CSIS Riandy Laksono menerangkan, tambahan tarif nol persen dari AS hanya mencakup sekitar 24 persen dari total ekspor Indonesia ke negara tersebut. Jika dikalkulasikan dengan porsi ekspor ke AS yang hanya menyumbang 10 persen dari total ekspor nasional, maka pengaruh riilnya sangat kecil.
"Jadi, dari seluruh ekspor kita ke Amerika itu cuma 24 persen yang ter-cover yang dapat tambahan 0 persen. Bear in mind, ekspor kita ke Amerika itu cuma 10 persen. Jadi, total akses pasar yang kita amankan dari total trade kita cuma 2 persen,” ujar Riandy dalam diskusi CSIS, Jakarta, Jumat (27/2/2026).
Dalam kesepakatan ART, kata dia, terdapat 1.819 produk Indonesia yang mendapatkan pembebasan tarif (0 persen) atau eksimpasi dari AS.