sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Defisit Rp77,3 T di Semester I-2024, Simak Tren APBN dalam 10 Tahun Terakhir

Economics editor Maulina Ulfa
09/07/2024 16:44 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp77,3 triliun di semester I-2024.
Defisit Rp77,3 T di Semester I-2024, Simak Tren APBN dalam 10 Tahun Terakhir. (Foto: Reuters)
Defisit Rp77,3 T di Semester I-2024, Simak Tren APBN dalam 10 Tahun Terakhir. (Foto: Reuters)

IDXChannel - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melaporkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) mengalami defisit sebesar Rp77,3 triliun di semester I-2024.

Angka ini setara 0,34 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Menurut Ani, sapaan akrabnya, defisit APBN ini masih terjaga.

“Keseimbangan primer masih mencatatkan surplus sebesar Rp162,7 triliun,” kata Sri Mulyani saat Rapat Kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Jakarta, Senin (8/7/2024).

Pendapatan negara pada semester I-2024 juga tercatat sebesar Rp1.320, 7 triliun atau terkontraksi sebesar 6,2 persen secara tahunan (yoy).

Penerimaan negara dari perpajakan juga tercatat hanya sebesar Rp1.028 triliun, turun 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Dengan outlook tersebut, kami memproyeksikan defisit APBN 2024 sebesar Rp609,7 triliun atau 2,7 persen terhadap PDB," ujar Sri Mulyani.

Target angka defisit APBN di 2024 lebih rendah dibanding era Covid-19 pada 2020 yang mencapai 6,09 persen. Namun, tren nilai defisit APBN terus merangkak naik dalam tiga tahun terakhir dan melampaui tren pra pandemi. (Lihat grafik di bawah ini.)

Belanja Negara Bengkak

Kondisi makroekonomi yang dinamis menjadi tantangan perekonomian domestik sepanjang 2024. Sejumlah asumsi ekonomi makro APBN 2024 yang sebelumnya telah direncanakan diperkirakan meleset dari rencana jika melihat data terbaru terkait defisit APBN 2024.

Sri Mulyani menggarisbawahi, penurunan pendapatan negara terutama disebabkan oleh turunnya harga komoditas, khususnya batu bara dan minyak sawit mentah (CPO).

Kondisi ini memengaruhi kondisi profitabilitas sektor korporasi yang berdampak pada penerimaan pajak penghasilan (PPh) Badan yang terkontraksi 35,5 persen yoy.

Di sisi lain, penerimaan pajak pertambahan nilai (PPN) dalam negeri (DN) turun 11 persen yoy. Namun, secara bruto tanpa memperhitungkan restitusi, PPN DN masih tumbuh positif 9,2 persen yoy, seiring dengan masih kuatnya aktivitas ekonomi domestik yang tercermin pada pertumbuhan ekonomi kuartal I-2024 sebesar 5,11 persen.

Sementara itu pendapatan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp288,4 triliun atau turun 4,5 persen yoy. Penurunan PNBP juga disebabkan turunnya penerimaan sumber daya alam (SDA) karena melemahnya harga komoditas dan kurang optimalnya lifting gas.

Di sisi lain, penerimaan dari kekayaan negara yang dipisahkan tumbuh positif 41,8 persen seiring dengan membaiknya kinerja badan usaha milik negara (BUMN).

Kinerja pendapatan negara yang melandai juga dibarengi dengan belanja negara tercatat meningkat 11,3 persen yoy mencapai Rp1.398 triliun. Kondisi ini yang membuat defisit anggaran terus terjadi dari tahun ke tahun. (Lihat grafik di bawah ini.)

Menurut Sri Mulyani, peningkatan belanja negara dimaksudkan untuk memaksimalkan peran APBN sebagai shock absorber untuk antisipasi gejolak global.

“Peningkatan belanja negara ini untuk melindungi daya beli masyarakat, serta tetap mendukung berbagai prioritas agenda pembangunan nasional,” kata Sri Mulyani.

Halaman : 1 2
Advertisement
Advertisement