sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Efek Domino Bioskop Dibuka Lagi, Saham Terkerek Naik hingga Prokes Diperketat

Economics editor Iqbal Dwi Purnama
22/09/2021 17:02 WIB
Pengelola bioskop tidak langsung merespon dengan membuka bioskopnya. Mereka butuh waktu, adaptasi terutama para pegawai yang mulai masuk.
Efek Domino Bioskop Dibuka Lagi, Saham Terkerek Naik hingga Prokes Diperketat. (Foto: MNC Portal Indonesia)
Efek Domino Bioskop Dibuka Lagi, Saham Terkerek Naik hingga Prokes Diperketat. (Foto: MNC Portal Indonesia)

IDXChannel - Sejak bioskop dimumkan mulai dibuka pada 14 September 2021 oleh Koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa dan Bali Luhut Binsar Pandjaitan, pengelola bioskop tidak langsung merespon dengan membuka bioskopnya. Mereka butuh waktu, adaptasi terutama para pegawai yang mulai masuk.

Ketua Gabungan Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) Djonny Syafruddin mengatakan dibutuhkan persiapan matang, membuka dan mengoperasikan bioskop. “Itu pembukaan tidak bisa dadak-dadakan. Kita dapat kepastian pembukaan pada 14 September, sedangkan persiapan dikasih waktu 3-4 hari sebelum pembukaan,” ucap Djonny.

Djonny menyebut selama tidak beroperasi, kerugian yang dialami pengelola bioskop cukup besar. Sedikitnya sebanyak 15 ribu pekerja bioskop terdampak langsung. Ada yang dirumahkan, hingga berhenti bekerja. Menurut Djonny, Tercatat data perbulan untuk kerugian setiap satu bioskop sebesar Rp150 Juta kemudian selama Bioskop tidak beroperasi secara keseluruhan pihaknya mencatat sebesar Rp1 Triliun dan satu jaringan Bioskop dengan nilai yang sama.

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, pengetatan mulai diperlonggar dengan prokes ketat. Perlahan bioskop mulai didatangi para penggemarnya. Jika di awal-awal, kapasitas buka bioskop 50% memanfaatkan aplikasi peduli lindungi masih belum memuaskan, sebab, tahap awal atau pekan pertama diumumkan 13 September, bioskop dibatasi hanya untuk orang dewasa. Artinya, anak-anak dibawah 12 tahun belum bisa masuk bioskop. Tapi sekarang, sejak 20 September 2021, pemerintah mulai membuka penggemar layar raksasa ini untuk usia 12 tahun ke bawah.

Sementara itu di pasar modal, emiten bioskop PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ) mulai membuka jaringan bioskopnya sejak 17 September 2021, sebanyak 45 bioskop, hal tersebut nyatanya membawa sentiment positif dimana saham terkerek melesat 20 persen sepanjang perdagangan Selasa (21/9/2021).

Berdasarkan pantauan MNC Portal di pasar modal hingga pukul 13:41 WIB, BLTZ berada di level 3.960,menguat (23.75%), sebelumnya dibuka di level 3.220, BLTZ pada awalnya bergerak datar dan menguat tipis. Namun, jelang penutupan sesi pertama, BLTZ langsung meroket dan sempat menyentuh auto rejection atas (ARA) hingga di level 4.000.

Punya market-caps Rp3,46 triliun, porsi pembelian BLTZ masih terbilang relatif sedikit dengan hanya sebesar 2 ribu saham dengan nilai mencapai Rp6,93 juta (per pukul 13:46 WIB). Menilik kinerjanya, BLTZ sudah berada di jalur hijau selama sepekan terakhir sebesar 24,92%, dengan perhitungan year to date mencapai 32,44%. Bahkan, dalam enam bulan terakhir, emiten pengelola bioskop CGV ini telah moncer 58,40%.

Perseroan juga menegaskan telah membuka total 43 bioskop per tanggal 17 September 2021. Per semester I-2021, BLTZ berdasarkan laporan keuangan masih dalam tahap pemulihan semenjak operasional bioskop ditutup karena pembatasan mobilitas. Adapun pendapatan perseroan turun hingga 58,01% mencapai Rp98,17 miliar. Jika dihitung sejak awal pandemi di mana bioskop CGV hanya dibuka di awal tahun lalu ditutup setelahnya dan dibuka terbatas pada akhir tahun, tercatat kerugian BLTZ mencapai Rp445,83 miliar.

Kondisi pandemi memperburuk bisnis perseroan, dibandingkan sebelumnya yang membukukan laba bersih sebanyak Rp83,34 miliar, selama 2019. Saat ini perseroan tengah berusaha untuk memulihkan kembali kinerjanya di tengah pelonggaran pembatasan. Pembukaan kembali bioskop CGV, membuat BLTZ telah menyiapkan sejumlah protokol kesehatan di lokasi agar pengunjung bisa mentaati aturan tersebut. Pengunjung juga diwajibkan menggunakan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat akses masuk bioskop.

Bagaimana dengan jaringan bioskop lain di Indonesia yang belum melantai di bursa? Ketua GPBSI Djonny Syafruddin optimis bisnis ini bakal menggeliat seiring dengan kerinduan penggemarnya menyaksikan film-film kesayangan. “Saya kira bakal dirindukan oleh penggemarnya. mengingat sejarah bisnis ini ada pada nostalgia. Dan kami berharap terus bisa turun ke generasi mendatang,” pungkasnya.

Djonny menambahkan, secara teknis, dan komunikasi antara pengusaha bioskop kepada pemerintah melalui kementerian-kementeriannya sudah berjalan baik. Misalnya dengan penerapan prokes yang ketat, hingga penerapan aplikasi PeduliLindungi. Terkait aplikasi PeduliLindungi, Djonny mengatakan untuk wilayah DKI Jakarta sudah tidak ada masalah, namun penerapannya menjadi tantangan ketika di daerah.

Baca pembahasan mengenai Geliat Industri Film selengkapnya di Celebrities.id melalui link berikut  https://www.celebrities.id/tag/industri-film (FHM)

Halaman : 1 2 3
Advertisement
Advertisement