sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Ekonomi Indonesia Mulai Stabil, Risiko Eksternal Masih Membayangi

Economics editor TIM RISET IDX CHANNEL
04/09/2026 10:25 WIB
Ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meski pemulihan masih berjalan tidak merata.
Ekonomi Indonesia Mulai Stabil, Risiko Eksternal Masih Membayangi. (Foto: Magnific)
Ekonomi Indonesia Mulai Stabil, Risiko Eksternal Masih Membayangi. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Ekonomi Indonesia mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meski pemulihan masih berjalan tidak merata.

Aktivitas manufaktur cenderung stabil, sementara inflasi meningkat dan surplus perdagangan yang kembali tercatat masih terlalu tipis untuk memperkuat ketahanan eksternal.

Ekonom BCA Sekuritas Felix Darmawan dalam riset yang terbit 2 September 2026 menilai kondisi domestik mulai menemukan titik pijakan.

Namun, sejumlah risiko eksternal masih perlu diwaspadai, terutama tekanan harga energi, kenaikan imbal hasil obligasi global, serta potensi tekanan terhadap aliran modal.

Dari sektor manufaktur, Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia turun tipis menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli. Angka di bawah 50 menunjukkan aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi.

Pelemahan tersebut terutama disebabkan kembali turunnya output dan penyerapan tenaga kerja. Pelaku usaha masih menghadapi permintaan yang lemah, persaingan yang semakin ketat, serta biaya produksi yang relatif tinggi.

Meski demikian, terdapat sejumlah sinyal awal perbaikan. Pesanan baru tercatat tumbuh untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, sementara aktivitas pembelian relatif stabil.

Persediaan bahan baku juga meningkat karena perusahaan mulai mengantisipasi potensi kenaikan biaya.

Tekanan inflasi dari sisi input maupun output memang telah mereda dibandingkan level tertinggi sebelumnya.

Namun, keduanya masih berada pada level historis yang tinggi sehingga tetap menjadi pertimbangan perusahaan dalam menentukan keputusan produksi.

Di sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026 sebesar USD120 juta. Capaian tersebut membalikkan defisit masing-masing sebesar USD1,61 miliar pada Mei dan USD450 juta pada Juni.

Surplus tersebut didukung oleh pertumbuhan ekspor sebesar 6,05 persen secara tahunan, terutama dari peningkatan pengiriman bahan bakar mineral, besi dan baja, serta produk manufaktur.

Namun, surplus perdagangan tersebut dinilai belum cukup untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia. Pasalnya, defisit migas masih mencapai USD2,98 miliar, sementara impor tumbuh jauh lebih cepat, yakni 27,0 persen secara tahunan.

Kenaikan impor mencerminkan permintaan domestik dan aktivitas investasi yang masih cukup kuat, sekaligus meningkatnya kebutuhan bahan baku serta barang modal.

BCA Sekuritas menilai kondisi tersebut membuat Indonesia masih cukup bergantung pada penerimaan komoditas untuk mengimbangi kenaikan biaya impor energi.

Dengan pertumbuhan impor yang masih melampaui ekspor, ruang penyangga eksternal Indonesia relatif tipis. Kondisi ini juga membuat surplus perdagangan hanya memberikan dukungan terbatas terhadap nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, tekanan inflasi kembali meningkat pada Agustus 2026. Inflasi umum tercatat sebesar 0,21 persen secara bulanan dan 3,19 persen secara tahunan, lebih tinggi dari ekspektasi pasar sekaligus membalikkan deflasi yang terjadi pada Juli.

Kenaikan terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak, termasuk harga daging ayam, cabai rawit, dan beras.

Tekanan juga terlihat pada inflasi inti yang meningkat menjadi 2,92 persen secara tahunan dari 2,76 persen pada Juli. Di sisi lain, inflasi harga yang diatur pemerintah memberikan sedikit penahan setelah harga bensin dan tiket pesawat turun, sehingga kelompok tersebut mengalami deflasi 0,33 persen.

Menurut BCA Sekuritas, perkembangan tersebut menunjukkan tekanan inflasi mulai semakin luas dan tidak lagi hanya berasal dari beberapa komoditas pangan.

Kenaikan harga pangan yang persisten dan menguatnya inflasi inti mengindikasikan kondisi permintaan serta penetapan harga di dalam negeri masih cukup kuat. Risiko pasokan akibat El Niño juga berpotensi membuat tekanan inflasi bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut dapat membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), meski inflasi masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen.

Peluang Kenaikan Suku Bunga

Dengan berbagai perkembangan tersebut, BCA Sekuritas memilih mempertahankan sikap wait and see terhadap prospek kebijakan moneter, terutama sembari menunggu kejelasan mengenai kepemimpinan Bank Indonesia (BI) berikutnya.

BCA Sekuritas menilai kondisi saat ini belum membutuhkan kenaikan suku bunga secara langsung. Namun, peluang satu kali kenaikan sebesar 25 basis poin tetap terbuka pada 2026.

Jika terealisasi, suku bunga acuan berpotensi naik hingga 6,00 persen, terutama apabila tekanan eksternal kembali meningkat akibat lonjakan harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi global, maupun penguatan tekanan terhadap arus modal.

Dalam kondisi tersebut, respons gubernur BI yang baru akan menjadi faktor penting dalam menentukan keseimbangan antara upaya menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas eksternal.

Di tengah ketegangan geopolitik yang masih berpotensi mengerek harga energi serta kenaikan imbal hasil obligasi global, ketahanan ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.

Karena itu, ruang bagi BI untuk memberikan stimulus moneter secara agresif dinilai tetap terbatas. (Aldo Fernando)

Halaman : 1 2 3 4 5 6
Advertisement
Advertisement