“Atau mereka negara-negara importir ada kemungkinan akan mengurangi pembelian apabila harganya sudah terlalu tinggi. Utamanya harga di logistiknya. Ini yang kita tidak berharap untuk terjadi. Kita berharap perang cepat selesai, sehingga ekspor kita masih berjalan dengan lancar,” kata dia.
Wilayah Timur Tengah menjadi area yang paling terdampak langsung karena ketergantungan pada jalur Selat Hormuz. Merujuk data 2025, ekspor ke kawasan ini mencapai 1,83 juta ton dengan nilai mencapai USD1,9 miliar.
Negara-negara seperti Iran, Irak, Uni Emirat Arab, dan Oman kini berada dalam zona risiko gangguan distribusi.
“Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu kita adalah di Middle East. Kita ada di situ yang betul-betul harus melalui Selat Hormuz. Itu ekspor kita ke Middle East itu ada 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu,” katanya.