CEO Repsol, Josu Jon Imaz, sebelumnya mengatakan perusahaannya tengah bernegosiasi untuk menyelesaikan kebuntuan pembayaran dalam bentuk barang sebelum Presiden Nicolás Maduro digulingkan oleh AS pada Sabtu lalu.
"Kami mempertahankan dialog yang konstruktif dan sepenuhnya transparan dengan pemerintahan AS saat ini,” kata Imaz dalam paparan kinerja pada Oktober lalu.
Para analis menilai Eni dan Repsol, bersama sejumlah perusahaan Eropa lainnya, mungkin tertarik berinvestasi di sektor energi Venezuela ke depan. Namun, kedua perusahaan menolak berkomentar mengenai prospek tersebut maupun soal utang yang belum dibayar.
Nilai USD6 miliar itu juga mencakup sebagian utang lama atas pasokan nafta yang diberikan Eni dan Repsol kepada perusahaan minyak negara Venezuela, PDVSA pada 2023.
(NIA DEVIYANA)