Di sektor energi, Hashim mengakui Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor. Namun, upaya diplomasi tingkat tinggi dinilai telah memberikan hasil konkret dalam menjaga pasokan energi nasional.
“Kita mendapatkan suplai sekitar 100 juta barrel dari Rusia, dan ini akan mulai dikirim dalam waktu dekat. Kita juga memiliki opsi tambahan hingga sekitar 50 juta barrel,” ujarnya.
Lebih lanjut, Hashim menilai, kondisi ekonomi Indonesia secara keseluruhan masih berada dalam posisi yang kuat, didukung oleh surplus neraca perdagangan serta kemandirian pembiayaan.
“Kita memiliki surplus sekitar USD27 miliar dan tidak perlu bergantung pada fasilitas pembiayaan eksternal,” ujarnya.
Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Bappenas, Eka Chandra Buana manyatakan pemerintah memastikan stabilitas makro tetap terjaga sebagai fondasi utama pertumbuhan. Menurut dia, disiplin fiskal tetap menjadi prioritas.