Tekanan tersebut berasal dari melonjaknya kebutuhan valuta asing (valas) domestik yang bersifat siklikal atau musiman sepanjang April hingga Juni.
Lonjakan permintaan dolar AS di pasar dalam negeri tersebut didominasi oleh penyerapan dana untuk keperluan ibadah haji dan umrah, kewajiban pelunasan utang luar negeri korporasi yang jatuh tempo, serta jadwal remitansi atau pembagian dividen tahunan perusahaan kepada investor asing.
"Itu yang kemudian kondisi global yang mengakibatkan capital outflow di tengah permintaan valas domestik hingga Juni memang itu masih tinggi," kata Perry.
Meski dihantam sentimen berlapis, Perry menegaskan, fondasi makroekonomi dalam negeri saat ini sangat kokoh dan memiliki daya tolak yang kuat terhadap krisis. Indikator positif itu tercermin dari angka defisit transaksi berjalan yang relatif kecil, laju pertumbuhan ekonomi nasional yang melesat tinggi, serta tingkat inflasi yang masih sangat jinak.
Di waktu yang sama, amunisi moneter BI berupa intervensi pasar valas yang masif dan kebijakan menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terbukti ampuh menjaring kembali modal asing (capital inflows) untuk masuk ke pasar keuangan domestik.
(Dhera Arizona)