Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa kebijakan tersebut tetap mempertimbangkan dinamika harga minyak mentah dunia atau Indonesian Crude Price (ICP). Saat ini, rata-rata ICP masih berada pada kisaran yang aman bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Ya. Sampai doain. Ini kan tergantung dengan harga ICP, tapi kalau sampai dengan USD100 itu sudah aman dalam APBN. Dan sekarang harga rata-rata ICP Januari sampai dengan sekarang itu tidak lebih dari USD77," ujar Bahlil.
Menurut Bahlil, kenaikan harga minyak global sejauh ini masih dalam batas terkendali, yakni sekitar USD7 dari asumsi awal. Karena itu, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mempertahankan harga BBM subsidi.
"Jadi kita itu baru split USD7, jadi jangan sampai ada yang menganggap bahwa uang kita dapat dari mana, kita ini baru naik USD7 sampai dengan sekarang yang saya ngomong ini," tuturnya.
(kunthi fahmar sandy)