AALI
12150
ABBA
186
ABDA
6250
ABMM
3020
ACES
975
ACST
159
ACST-R
0
ADES
5825
ADHI
685
ADMF
8100
ADMG
181
ADRO
3100
AGAR
330
AGII
1975
AGRO
920
AGRO-R
0
AGRS
125
AHAP
63
AIMS
244
AIMS-W
0
AISA
154
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
920
AKRA
1015
AKSI
350
ALDO
895
ALKA
292
ALMI
290
ALTO
196
Market Watch
Last updated : 2022/05/25 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
539.60
-0.68%
-3.67
IHSG
6868.32
-0.66%
-45.82
LQ45
1009.95
-0.59%
-5.98
HSI
20079.32
-0.16%
-32.78
N225
26713.08
-0.13%
-35.06
Kurs
HKD/IDR 1,866
USD/IDR 14,657
Emas
876,842 / gram

Impor Ditekan, Industri Logam dan Baja Tumbuh Positif di 2021

ECONOMICS
Oktiani Endarwati
Sabtu, 22 Januari 2022 06:37 WIB
Kementerian Perindustrian mencatat kinerja sektor industri logam dan baja mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2021.
Kementerian Perindustrian mencatat kinerja sektor industri logam dan baja mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2021.  (Foto: MNC Media)
Kementerian Perindustrian mencatat kinerja sektor industri logam dan baja mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2021. (Foto: MNC Media)

IDXChannel  - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kinerja sektor industri logam dan baja mengalami pertumbuhan positif selama tahun 2021. 

Direktur Industri Logam, Direktorat Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Budi Susanto mengatakan, pertumbuhan positif sektor baja akibat upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah dengan konsep smart supply demand, yang diterapkan dengan berpihak pada industri baja nasional mulai dari sektor hulu, antara hingga hilir.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada kuartal III tahun 2021, sektor industri logam dengan HS 72-73 mampu tumbuh di atas 9,82%. Kinerja ini juga didukung ekspor produk baja hingga November 2021 mencapai USD19,6 miliar dan mengalami surplus sebesar USD6,1 miliar.

"Peningkatan kebutuhan baja ini didukung kebijakan PPnBM otomotif yang juga tumbuh hingga 27% di kuartal III tahun 2021," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (21/1/2022).

Menurut dia, pengaturan ini menjadi penting agar produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri dapat dimaksimalkan. "Hampir semua impor yang ada merupakan bahan baku untuk berbagai jenis industri," ungkapnya.

Direktur Eksekutif Research Oriented Development Analysis (RODA) Institute, Ahmad Rijal Ilyas menyampaikan, impor baja tahun 2021 dibanding 2019 mengalami penurunan yang cukup baik, yaitu dari 6,9 juta ton pada tahun 2019 menjadi 4,8 juta ton di 2021 atau menurun 31%.

Menurutnya, beberapa program pemerintah yang dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha antara lain pengendalian impor, program substitusi impor termasuk penurunan nilai impor untuk beberapa produk baja, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), penerapan SNI wajib dalam rangka melindungi konsumen dalam negeri dari produk baja yang tidak berkualitas, serta pemberian insentif untuk mendorong peningkatan investasi di sektor industri logam. 

"Diharapkan dengan program-program tersebut terus ditingkatkan untuk dapat mendorong kinerja industri baja pada periode selanjutnya," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) Handjaja Susanto menyampaikan, salah satu keberhasilan perusahaan memperoleh laba bersih hingga Rp100 miliar karena berkat kontrol pemerintah terhadap impor baja, sehingga pasar impor banyak beralih ke pasar lokal. 

"Optimisme industri baja nasional ini terus dijaga dengan upaya hilirisasi dan substitusi impor yang telah dicanangkan oleh pemerintah. Dengan demikian, iklim usaha dan investasi akan terus meningkat di Indonesia," ungkapnya.

Hingga triwulan III tahun 2021, investasi di sektor logam menunjukkan kinerja yang cukup menggembirakan, dengan mencapai Rp87,73 triliun serta utilisasi di sektor tersebut di atas 60%. Contohnya di industri baja lapis, yang kinerjanya meningkat sangat baik seperti yang ditunjukkan oleh PT Saranacentral Bajatama. (TIA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD