AALI
10125
ABBA
232
ABDA
0
ABMM
780
ACES
1470
ACST
272
ACST-R
0
ADES
0
ADHI
1165
ADMF
0
ADMG
167
ADRO
1195
AGAR
410
AGII
1100
AGRO
900
AGRO-R
0
AGRS
595
AHAP
71
AIMS
480
AIMS-W
0
AISA
274
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
595
AKRA
3220
AKSI
0
ALDO
890
ALKA
238
ALMI
240
ALTO
344
Market Watch
Last updated : 2021/05/12 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
467.69
-0.91%
-4.29
IHSG
5921.08
-0.92%
-54.70
LQ45
879.63
-1%
-8.87
HSI
28013.81
0%
0.00
N225
28608.59
0%
0.00
NYSE
16355.62
0%
0.00
Kurs
HKD/IDR 1,826
USD/IDR 14,195
Emas
838,803 / gram

Influencer Pemerintahan Lagi Hits, Apa Bedanya dengan Buzzer?

ECONOMICS
Giri Hartomo/Okezone
Minggu, 14 Februari 2021 07:27 WIB
Pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, secara pengertian influencer merupakan seseorang yang bisa mempengaruhi orang dengan pendapat-pendapatnya.
Influencer Pemerintahan Lagi Hits, Apa Bedanya dengan Buzzer? (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Influencer dan Buzzer kini sedang menjadi perbincangan hangat di media sosial. Bahkan anggaran Rp90 miliar yang pernah dikeluarkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk influencer kembali diungkit kembali.  

Lantas apa definisi dari influencer dan buzzer? Apakah kedua profesi yang saat ini sedang ramai diperbincangkan itu memiliki kesamaan?

Pengamat media sosial Enda Nasution mengatakan, secara pengertian influencer merupakan seseorang yang bisa mempengaruhi orang dengan pendapat-pendapatnya. 

Namun pendapat yang dikeluarkan harus sesuai dengan bidang atau kredibilitas yang dibangun. 

"Yang disebut influencer itu artinya di menginfluence berdasarkan keahlian dan kredibilitas yang kita punya," ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia di Jakarta, Sabtu (13/2/2021).  

Artinya, jika berprofesi sebagai influencer tidak semua isu bisa disampaikan. Sebagai salah satu contohnya, jika ada pemilik akun yang suka membuat dan mengkritik film maka sudah bisa disebut sebagai influencer film. 

"Jadi kita akan terinfluence yang sudah tahu track recordnya, kita tahu kualitas dan kredibilitasnya untuk bidang tertentu. Itu yang namanya influencer," jelasnya.  

Kredibilitas yang dibangun ini juga bisa mempengaruhi masyarakat. Misalnya jika ada seorang influencer yang bergerak di bidang financial planner, maka masyarakat atau warganet (netizen) hanya akan percaya tentang semua ucapan yang berkaitan dengan merencanakan keuangan.  

"Jadi ketika dia mempromosikan sesuatu dia mempertaruhkan kredibilitasnya di situ. Yang mana dia sudah punya kredibilitas ada trust. Misalnya seorang financial planner akan dipercaya kalau ngomongin soal apa yang bisa dipercaya secara finansial," jelasnya.

Sedangkan buzzer, bisa diartikan sebagai penonton yang sifatnya selalu meramaikan apa pun yang sedang ramai. Seringkali, akun-akun dari buzzer ini bersifat anonim atau tidak diketahui identitasnya.  

"Sedangkan buzzer menurut saya, ini istilahnya kayanya penonton saja ramai-ramaian. Seringkali anonim dan tidak tahun identitasnya. Siapa orang ini, lalu kemudian apa keahliannya, informasinya dapat dari mana. Tapi bukan berarti enggak punya audience ya. Kadang-kadang buzzer ini juga ada akun anonim yang followersnya juga yang audiencenya banyak," jelasnya.  

Sebelumnya, Indonesia Corruption Watch (ICW) menemukan penggunaan anggaran pemerintah pusat untuk pemengaruh sebesar Rp 90,45 miliar untuk sosialisasi kebijakan sepanjang tahun 2014 sampai 2019. Data ini diambil ICW dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). (Sandy)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD