"Ini pula lah yang disebut kemarin oleh Pak Menko (Perekonomian) bisa membantu kalau berdasarkan hitungan, setiap 400 ribu sama dengan 1 persen. Jadi kalau 1,5 juta sama dengan 3,5 persen. Jadi apa yang diniatkan Presiden Pak Menko untuk mencapai 8 persen, ini memang salah satu kendaraannya," ujar Anindya.
Selain dampak ketenagakerjaan, Anindya menilai MBG akan mendorong hilirisasi sektor agrikultur secara masif. Kebutuhan pangan untuk 82 juta porsi makanan setiap hari sekolah akan menciptakan permintaan besar terhadap telur, daging ayam, sayuran, ikan, dan komoditas pangan lainnya.
"Kalau kita ada 82 juta makanan setiap hari sekolah, yang dibutuhkan banyak sekali. Paling tidak 82 juta telur, kalau lagi menunya telur. 82 juta paha ayam, belum lagi sayur-mayur, dan lain-lain, sehingga bisa terjadi hilirisasi yang selama ini identik dengan pertambangan, hilirisasi agrikultur ini akan terjadi," imbuhnya.
Dia menambahkan, pola konsumsi MBG juga dapat disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing. Daerah pesisir dapat fokus pada ikan, wilayah sentra peternakan pada ayam dan telur, sementara daerah lain mengembangkan komoditas unggulan masing-masing.
"Sehingga masing-masing provinsi, kabupaten, kota, desa bisa mempunyai tentunya industrialisasi daripada agrikultur ini," katanya.