Sudaryono mengungkapkan bahwa Kementan sebenarnya telah menyiapkan program pengembangan ubi jalar seluas 295 hektare di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat diversifikasi pangan nasional sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi bagi petani.
Meski saat ini fokus utama pengembangan komoditas umbi berada pada singkong untuk mendukung program bioenergi nasional, Sudaryono menegaskan ubi jalar tetap memiliki peran penting sebagai sumber pangan masa depan yang perlu terus dikembangkan.
“Ubi jalar memiliki potensi besar sebagai sumber pangan. Komoditas ini dapat tumbuh di berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marjinal, sehingga peluang pengembangannya sangat luas,” jelasnya.
Menurutnya, tantangan utama dalam pengembangan ubi jalar bukan terletak pada ketersediaan lahan, sumber daya manusia, maupun teknologi budidaya, melainkan pada penyediaan benih atau bibit unggul yang memadai. Karena itu, percepatan pelepasan varietas hasil penelitian menjadi langkah penting untuk mendukung perluasan pengembangan komoditas tersebut.
“Kami siap mendukung pengembangannya dalam skala besar. Yang paling penting adalah memastikan ketersediaan bibit unggul agar petani memiliki akses terhadap varietas yang produktif dan sesuai kebutuhan pasar,” kata Sudaryono.
(Febrina Ratna Iskana)