Achmad melakukan simulasi dampak fiskal dengan memperhitungkan beban implisit negara sebesar Rp3.000 hingga Rp5.000 per liter untuk setiap liter BBM bersubsidi yang disalurkan. Jika migrasi konsumen mencapai level 20 persen, maka akan ada tambahan volume Pertalite sebesar 1,3 juta kiloliter yang setara dengan tambahan beban negara berkisar Rp3,8 triliun hingga Rp6,5 triliun per tahun.
Potensi pembengkakan anggaran akan semakin liar jika angka migrasi terus meningkat melampaui prediksi awal pemerintah. Kondisi ini diprediksi akan menjadi beban nyata bagi kas negara, terutama jika kelas menengah secara masif mulai mengubah pola konsumsi energinya demi efisiensi pribadi.
"Dalam skenario berat, ketika 60 persen pengguna berpindah, tambahan beban dapat menembus Rp11,5 triliun sampai Rp19,5 triliun per tahun," katanya.
(Nur Ichsan Yuniarto)