AALI
9675
ABBA
290
ABDA
6325
ABMM
1385
ACES
1345
ACST
190
ACST-R
0
ADES
3570
ADHI
825
ADMF
7550
ADMG
193
ADRO
2220
AGAR
362
AGII
1445
AGRO
1445
AGRO-R
0
AGRS
172
AHAP
70
AIMS
398
AIMS-W
0
AISA
174
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1120
AKRA
810
AKSI
690
ALDO
1350
ALKA
334
ALMI
290
ALTO
248
Market Watch
Last updated : 2022/01/18 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.56
-0.34%
-1.74
IHSG
6614.06
-0.47%
-30.99
LQ45
944.82
-0.34%
-3.20
HSI
24112.78
-0.44%
-105.25
N225
28257.25
-0.27%
-76.27
NYSE
17219.06
-0.23%
-39.94
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,330
Emas
836,902 / gram

Kompensasi Ditutup, Siap-siap Tarif Listrik Non Subsidi Bakal Naik di 2022

ECONOMICS
Athika Rahma
Selasa, 30 November 2021 10:56 WIB
Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mengungkapkan rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif listrik non subsidi.
Kompensasi Ditutup, Siap-siap Tarif Listrik Non Subsidi Bakal Naik di 2022. (Foto: MNC Media)
Kompensasi Ditutup, Siap-siap Tarif Listrik Non Subsidi Bakal Naik di 2022. (Foto: MNC Media)

IDXChannel - Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mengungkapkan rencana pemerintah untuk menyesuaikan tarif listrik non subsidi. Alhasil, tarif listrik akan berpotensi naik pada 2022 mendatang.

Penyesualain ini dilakukan sesuai dengan perhitungan tariff adjustment bagi 13 golongan pelanggan listrik PLN. Rencana ini pun sudah disampaikan oleh Kementerian ESDM dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR.

"Jadi kita sepakat dengan Banggar, kalau sekiranya Covid-19 ini membaik ke depan, mudah-mudahan, kompensasi tariff adjustment diberikan 6 bulan saja, selanjutnya disesuaikan," ujar Rida dikutip dari kanal Youtube CNBC Squawk Box, Selasa (30/11/2021).

Rida menjelaskan, ada 2 golongan pelanggan PLN yaitu golongan bersubsidi dan tidak bersubsidi. Untuk golongan bersubsidi terdiri dari 25 golongan yang terdiri UMKM, tempat ibadah, kantor pemerintah dan lainnya. Mereka tarif listriknya disubsidi pemerintah.

Sementara, golongan tidak bersubsidi berjumlah 13 golongan, yang tarif listriknya berfluktuasi. Fluktuasi ini terjadi karena beberapa faktor seperti nilai tukar (kurs), harga minyak mentah dan inflasi.

"Biasanya ini disesuaikan per 3 bulan. Apakah sudah berjalan? Dulu sempat berjalan, tahun 2015-2017, ini tariff adjusment, automatic tariff adjusment," kata Rida.

Lanjutnya, sejak 2017, tariff adjustment ditahan dengan alasan menjaga daya beli masyarakat dan daya saing industri.

Karena tidak ada kenaikan tarif listrik sejak tahun 2017, maka kompensasi pemerintah terhadap PLN tentunya lebih besar. Dana kompensasi ini diberikan dari APBN.

"Jadi kita tahan, ini berdampak ke kompensasi pemerintah, karena kan keputusan pemerintah pasti dasarnya APBN," pungkas Rida. (TYO)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD