AALI
8525
ABBA
580
ABDA
0
ABMM
1480
ACES
1350
ACST
250
ACST-R
0
ADES
2940
ADHI
880
ADMF
7675
ADMG
220
ADRO
1335
AGAR
370
AGII
1300
AGRO
2390
AGRO-R
0
AGRS
254
AHAP
63
AIMS
344
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
590
AKRA
3880
AKSI
430
ALDO
720
ALKA
238
ALMI
242
ALTO
322
Market Watch
Last updated : 2021/09/17 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
459.02
0.03%
+0.16
IHSG
6133.25
0.38%
+23.30
LQ45
862.44
-0.03%
-0.26
HSI
24920.76
1.03%
+252.91
N225
30500.05
0.58%
+176.71
NYSE
16576.77
-0.3%
-50.11
Kurs
HKD/IDR 1,825
USD/IDR 14,220
Emas
805,205 / gram

Kredit Limit Jadi Salah Satu Upaya Nasabah Bawa Kabur Uang Pinjol

ECONOMICS
Muhammad Yan Yusuf
Rabu, 15 September 2021 19:23 WIB
Kredit limit digunakan nasabah untuk membawa lari uang pinjaman online.
Ilustrasi Pinjaman Online

IDXChannel - Mengalami pemutusan kerja akibat pandemi Covid-19, membuat Fajar (35), bukan nama sebenarnya, kebingungan. Selain harus mencari dana tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari keluarganya, ia juga harus mencari dana darurat untuk melunasi cicilan motor yang menyisahkan satu bulan.

Sempat mencoba mendatangi sejumlah teman, namun upaya Fajar tak membuahkan hasil. Sebab di waktu itu yaitu April 2020, pengurangan karyawan oleh perusahaan tempatnya bekerja membuat beberapa temannya tak memiliki uang karena PHK.

"Memang dari awal saya ingin meminjam pinjol. Tapi masih belum yakin," kata Fajar saat dihubungi melalui saluran teleponnya, Minggu (12/9/2021).

Setelah berkonsultasi dengan pasangannya dan beberapa teman temannya sepekan terakhir, Fajar kemudian nekat mendownload aplikasi pinjaman online yang diawasi OJK. Dengan kata lain, pinjaman online Fajar merupakan resmi.

Ajuan pinjaman sebesar Rp1 juta berhasil dicairkan kurang dari 5 menit setelah melengkapi beberapa persayarakat seperti memasukkan nomer telepon, nomer tetangga, hingga foto administrasi seperti dirinya dan KTP.

Dalam ajuan pinjaman itu, Fajar yang mengajukan satu juta harus rela mendapatkan uang sebesar Rp 950 ribu dan wajib membayarkan uang sebesar Rp1,1 juta dengan tenggat waktu dua minggu.

Bagi Fajar mencari uang sebesar Rp1,1 juta dalam 2 minggu itu tidaklah sulit. Mengingat dirinya saat ini tengah mengurusi packlaring BPJS Ketenagakerjaan.

"Saya pinjem karena saat itu sudah mentok, dan saya butuh duit yang sekitar Rp 1,2 juta hari itu juga," katanya.

Belum sampai dua pekan, Fajar mampu membayarnya utang pinjol itu setelah sepekan setelah pengajuan uang packlaring BPJS miliknya cair. Bak jutawan, Fajar tanpa ragu melunasi pinjol itu dan langsung men-uninstal aplikasi pinjol.

Tiga pekan setelahnya, Fajar mendapatkan kiriman short massage service (sms) lewat nomer ponsel yang didapat dari operator pinjaman online itu. Kredit limit tambahan pinjaman disampaikan lewat pesan itu.

"Naiknya hingga Rp5 juta. Tapi tetep keterima setelah dikurangi administarasi sekitar 5 persen dan saya harus membayar 10 persen," katanya.

Uang itu ia kemudian ia gunakan untuk persiapan kembali ke kampungnya setelah putus asa sulit mencari kerja di Jakarta.

"Saya pakai untuk pindahan ke kampung, modal jualan, dan kehidupan sehari hari," katanya.

Pelunasan yang melebihi jangka waktu membuat kredit limit pinjaman Fajar kemudian bertambah hingga akhirnya ia mendapatkan Rp25 juta setelah delapan bulan dari pinjaman pertamannya. Rencana kabur mulai terpikir olehnya.

Bagi Fajar untuk kabur dari collector pinjol tak sulit, sebab sekalipun dirinya menyerahkan foto ktpnya. Namun sejak pinjaman kedua atau lebaran 2020 dirinya telah mengganti alamat dalam catatan domisili.

"KTP saya udah pindah, lagi pula kontrakan disana udah saya tinggalin setelah pindah," terang Fajar yang mengatakan registrasi nomernya itu menggunakan nomer yang biasa digunakan untuk bekerja, sehingga kontak phone booknya tak lebih dari 20 nomer.

Satu setengah tahun berselang, Fajar mengakui teror tagihan utang masih dilakukan debt collector melalui telepon, sms, dan whatsaap kepada beberapa orang teman kantor dan tetangga.

"Itu waktu temen saya di Jakarta bilang dirinya di telepon, di whatsapp, dan di sms oleh orang tak dikenal," katanya.

Tak hanya itu, berdasarkan cerita dari temannya. Collector juga sempat mendatangi kantornya dan rumah kontrakannya selama 6 tahun tinggal di Jakarta. Para collector kemudian bertanya mencari dirinya melalui tetangganya. Namun karena ia tak begitu akrab dengan tetangga rumahnya, banyak dari mereka tak mengetahui ini.

"Lagi pula saat saya daftarkan nomer jaminan. Saya tak memberi tahu mereka saya daftarkan ke pinjol," cetus Fajar.

Kini bak hilang ditelan Bumi. Tekanan kepadanya melalui debt collector sudah tak ada setelah nomer yang digunakannya untuk registrasi sudah tak lagi digunakan, begitu dengan ponselnya yang untuk meregistrasi sudah ia jual beberapa waktu lalu tak lama setelah pindah ke kampung.

Berdasarkan penuturannya, ia mengakui bila dirinya sebenarnya tak berniat untuk kabur. Namun karena bunganya yang kini tak sebanding dan ditetapkan sepihak membuat dirinya tak berniat untuk melunasi hutang itu. Terlebih ia melihat nilai itu tak sebanding dengan rasa malu yang didapat karena collector yang menjelekkan dirinya.

Meski demikian dengan omset dagangnya yang kini telah mencapai puluhan hingga ratusan juta, Fajar mengungkapkan dirinya tak sulit untuk membayar pinjaman 25 juta asalkan tanpa bunga yang terus bertambah.

"Tapi pinjol semacam itu bunganya terus bertambah," tutupnya. (NDA)

Rekomendasi Berita
Berita Terkait
link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD