AALI
9350
ABBA
282
ABDA
0
ABMM
2420
ACES
730
ACST
202
ACST-R
0
ADES
6150
ADHI
795
ADMF
8125
ADMG
176
ADRO
3140
AGAR
322
AGII
2230
AGRO
765
AGRO-R
0
AGRS
112
AHAP
106
AIMS
254
AIMS-W
0
AISA
158
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1530
AKRA
1155
AKSI
270
ALDO
755
ALKA
292
ALMI
300
ALTO
193
Market Watch
Last updated : 2022/08/16 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
536.29
0.17%
+0.93
IHSG
7091.15
-0.03%
-2.12
LQ45
1007.17
0.14%
+1.38
HSI
19938.56
-0.51%
-102.30
N225
28864.25
-0.03%
-7.53
NYSE
15794.33
-0.06%
-10.05
Kurs
HKD/IDR 190
USD/IDR 14,725
Emas
843,472 / gram

Nasib Garuda di Ujung Tanduk, Dahlan Iskan Ungkap Perbedaannya dengan Thai Airways

ECONOMICS
Suparjo Ramalan
Senin, 07 Juni 2021 18:51 WIB
Eks Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan memaparkan perbandingan kondisi keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dengan Thai Airways.
MNC Media
MNC Media

IDXChannel - Eks Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan memaparkan perbandingan kondisi keuangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, dan maskapai penerbangan milik Thailand, Thai Airways (TG). Keduanya memiliki perkara serupa yakni kerugian akibat pandemi Covid-19. 

Meski kedua industri perbangan itu memiliki kesamaan masalah, namun proses penyelesaian lehih dulu dilakukan pemerintah Thailand. Dimana, perkara Thai Airways sudah dibahas dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) negara setempat untuk melakukan persidangan. 

"Bedanya, Thai Airways sudah membuat keputusan. membawa masalahnya ke PKPU-nya Thailand. Sidang-sidangnya sudah berlangsung, sudah pula siap diputuskan, tapi para kreditor masih menyusulkan pendapat," ujar Dahlan, Senin (7/6/2021). 

Usai kreditor memberikan pendapat usulan, PKPU pun menyetujui untuk mendengarkan hal tersebut. Dengan demikian, putusan dimundurkan hingga 15 Juni 2021 mendatang.

Sementara itu, proses yang dialami Garuda Indonesia dinilai masih ngambang karena belum ada petusan pemerintah terhadap kondisi maskapai pelat merah saat ini. 

"Pemerintah Thailand sudah pada keputusan final, tidak mau lagi menginjeksi TG. Bahkan tiga tahun lalu pemerintah sudah memutuskan tidak mau lagi menjadi pemegang saham mayoritas. Dilakukanlah divestasi dari 51 persen ke 47,8 persen. Sementara Garuda melayang-layang dengan benang putusnya," katanya. 

Dengan divestasi itu pemerintah mengeluarkan Thai Airways dari daftar BUMN-nya. Divestasi itu dilakukan dengan cepat. Saat status TG diubah, maka perusahaan pun melantai ke pasar modal. Dahlan mencatat, tidak rumit mendivestasi saham di pasar modal.

"Utang TG memang sangat besar, juga sebesar gajah bengkak. Bengkaknya lebih besar sekitar Rp 100 triliun. Lebih besar dari GA yang Rp 70 triliun.

Berbagai upaya menyelamatkan TG sudah dilakukan pemerintah Thailand. Jalur-jalur yang rugi sudah dihapus. Gaji dipangkas dan jumlah karyawan pun dikurangi hingga 6.000 orang.

TG sudah tidak punya lagi rute penerbangan ke Amerika. Padahal, industri penerbangan ini sukses. Bahkan, jauh lebih sukses dari Garuda Indonesia. Dimana, TG pernah memiliki penerbangan nonstop jarak jauh baik dari Bangkok ke New York dan dari Bangkok ke Los Angeles.

"Saya pernah naik TG dengan rute yang amat jauh, dari Madrid ke Bangkok, nonstop. Kecewa. Salah saya sendiri. Saya kurang cerewet bertanya. Waktu itu saya membeli tiket first class agar bisa tidur enak. Ternyata first class di jurusan itu sama dengan business class, kursinya hanya bisa disandarkan sedikit, tidak bisa dibuat hamparan datar," kata dia. 

Lebih jahu, Dahlan menuturkan, kesulitan yang sudah biasa didengar juga dialami oleh Malaysia Airlines System (MAS). Pemerintah Malaysia tidak henti-hentinya menyuntikkan dana. Pun tidak membuat MAS kunjung sehat. Pernah dikeluarkan dari BUMN, justru hampir bangkrut. 

Thai Airways, kata dia, sudah berupaya menyelesaikan utangnya di luar pengadilan. Kreditor juga setuju bahwa utang harus direstrukturisasi. Bunga harus dipangkas, jangka pengembalian harus diperpanjang, hingga beberapa aset harus dijual.

Untuk merestrukturisasi utang itu para kreditor sudah menunjuk wakil yang bisa diterima semua pihak yakni seorang mantan Menteri. Ditambah seorang mantan Direktur Utama yang pernah membawa TG memperoleh laba. Sedang Bangkok Bank telah pula mengirim wakil ke tim negosiasi yang dibentuk. 

Namun, persoalan TG sudah terlalu berat. Maka, direksi TG membawanya ke PKPU-nya Thailand. Momentum Covid-19 dimanfaatkan untuk melakukan penyelesaian. 

(IND) 

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD