Berbeda dengan pertumbuhan ekspor yang cenderung melambat, nilai impor kumulatif Indonesia justru melesat tajam sebesar 15,24 persen menjadi USD111,33 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pembelian dari luar negeri ini didominasi oleh kelompok nonmigas sebesar USD93,88 miIiar (naik 13,16 persen), sementara sektor impor migas melonjak agresif sebesar 27,89 persen menjadi USD17,45 miliar.
Jika ditinjau dari profil penggunaannya, lonjakan nilai impor nonmigas terjadi merata di seluruh lini, baik pada kelompok barang modal, barang konsumsi, maupun pasokan penolong industri.
Sektor bahan baku/penolong menjadi penyumbang impor terbesar dengan nilai USD79,40 miIiar (naik 14,41 persen), diikuti oleh impor barang modal senilai USD22,12 miliar (naik 17,53 persen), serta barang konsumsi yang menyerap dana USD9,81 miliar (naik 17,05 persen).
China bertengger di posisi puncak sebagai negara asal pasokan impor nonmigas terbesar bagi pasar domestik dengan nilai pasokan menembus USD39,27 miliar atau menguasai porsi 41,83 persen.
Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang dengan nilai pasokan USD5,17 miliar (5,51 persen) dan Australia di peringkat ketiga dengan andil senilai USD5,02 miliar (5,35 persen).
(Dhera Arizona)