sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Pasar Properti RI 2026 Siap Masuk Fase Baru usai Bergerak dalam Fase Konsolidasi

Economics editor Dhera Arizona Pratiwi
17/01/2026 20:08 WIB
Pasar properti Indonesia menutup 2025 dengan sinyal stabilisasi yang semakin jelas setelah melewati periode penyesuaian sepanjang tahun.
Pasar Properti RI 2026 Siap Masuk Fase Baru usai Bergerak dalam Fase Konsolidasi. (Foto Istimewa)
Pasar Properti RI 2026 Siap Masuk Fase Baru usai Bergerak dalam Fase Konsolidasi. (Foto Istimewa)

Dari sisi permintaan, minat masyarakat untuk mencari hunian tetap solid dan masih terkonsentrasi di wilayah-wilayah utama. Pada Desember 2025, Tangerang menjadi lokasi dengan proporsi pencarian tertinggi secara nasional, mencapai 13,9 persen dari total pencarian rumah, disusul Jakarta Selatan sebesar 11,4 persen dan Jakarta Barat sebesar 9,7 persen. Pola ini menegaskan kawasan-kawasan dengan akses langsung ke pusat aktivitas ekonomi masih menjadi magnet utama bagi pencari hunian.

Namun secara dinamis, pertumbuhan minat mulai bergeser ke wilayah penyangga dan kota di luar Pulau Jawa. Di area Jabodetabek, Tangerang Selatan dan Depok mencatatkan kenaikan proporsi pencarian bulanan tertinggi. Sementara di luar Jawa, Batam menjadi salah satu kota dengan peningkatan minat yang paling menonjol.

Pola ini mengindikasikan pencari rumah semakin aktif mengeksplorasi wilayah dengan struktur harga yang lebih kompetitif dan potensi pengembangan jangka menengah yang baik. Jika dilihat dari pergerakan median harga berdasarkan ukuran rumah, pasar menunjukkan segmentasi yang semakin kuat:

- ≤60 m²: pertumbuhan tertinggi di Makassar, median Rp675 juta (+12,9 persen YoY)
- 61–90 m²: tertinggi di Surakarta, median Rp850 juta (+41,7 persen YoY)
- 91–150 m²: tertinggi di Yogyakarta, median Rp1,8 miliar (+24,1 persen YoY)
- 151–250 m²: tertinggi di Yogyakarta, median Rp2,8 miliar (+9,8 persen YoY)
- ≥251 m²: tertinggi di Makassar, median Rp5 miliar (+11,1 persen YoY)

Menurut Marisa, Makassar menjadi satu-satunya kota yang mencatatkan pertumbuhan median harga tertinggi sekaligus di segmen rumah kecil dan rumah besar, menandakan bahwa permintaan di kota ini datang dari spektrum pembeli yang sangat luas, baik end-user entry level maupun segmen atas.

Dari sisi makro, sepanjang 2025, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga acuan secara bertahap hingga berada di level 4,75 persen, sementara inflasi di kuartal IV-2025 berada di kisaran 2,72–2,92 persen.

Ke depan, keberlanjutan kebijakan pemerintah seperti insentif PPN DTP 100 persen untuk rumah tapak dan satuan rumah susun serta program FLPP untuk rumah subsidi diharapkan menjadi penopang tambahan bagi pasar, terutama di segmen hunian terjangkau.

“Dengan harga yang bergerak lebih terkendali, pasar yang semakin tersegmentasi, dan konsumen yang semakin rasional, 2025 justru menjadi tahun penting dalam membentuk fondasi pasar properti yang lebih sehat. Ini menjadi modal yang sangat baik untuk memasuki 2026 dengan ekspektasi pertumbuhan yang lebih berkualitas,” kata Marisa.

(Dhera Arizona)

Halaman : 1 2 3 4 Lihat Semua
Advertisement
Advertisement