"Jadi kita ini harus menjaga keseimbangan, menjaga petani kita itu kurang lebih 115 juta orang. Kemudian ada juga konsumen kita jaga, dua-duanya kita jaga. Kita harus bela dua-duanya. Makanya ada harga petani, HPP Harga Pembelian Pemerintah. Kemudian ada Harga Eceran Tertinggi (HET)," tutur Amran.
Menurutnya, keseimbangan harga harus diwujudkan. Pemerintah harus mampu menjaga harga petani seiring dengan semangat produksi yang juga harus bertumbuh.
"Nah disinilah keseimbangan. Inilah keseimbangan yang paling ideal. Karena kalau kita turunkan (HET) ini, ini terpukul turun. (Bisa bisa) Tidak ada produksi. Petani itu sederhana, beri ruang untuk untung sedikit, dia berproduksi. Petani tidak serakah. Kita subsidi pupuknya. Kemudian konsumennya juga tersenyum," kata Amran.
"Kita ini bersyukur. Beras kita sudah cukup. Beras kita surplus. (Harga) pupuk kita turun. Negara lain kekurangan pupuk (sampai) tidak tanam. Petaninya ribut. (Jadi) kita ini bersyukur," kata Amran.
Untuk diketahui, di Indonesia sendiri inflasi beras secara tahunan berada di 4,36 persen, namun inflasi beras secara bulanan masih cukup positif di 0,58 persen di April ini. Bahkan indeks harga diterima petani padi menorehkan 145,37 dan menjadi yang tertinggi pada tahun 2026 ini.