Di sisi lain, pemerintah juga mengoptimalkan fungsi fiskal melalui akselerasi Belanja Negara demi mendorong roda perekonomian nasional. Total realisasi belanja sepanjang tahun 2026 diestimasi akan mencapai Rp3.942,4 triliun, atau setara dengan 102,95 persen dari pagu rencana awal yang dialokasikan.
Langkah ekspansif ini, kata Awalil, dinilai menjadi draf stimulus terbesar dalam sejarah keuangan domestik dalam jangka waktu beberapa tahun ke belakang.
"Belanja Negara 2026 diprakirakan Rp3.942,4 triliun atau 102,95 persen dari rencana. Selain melebihi rencana, juga meningkat 14,76 persen dibanding realisasi 2025. Jika terjadi, merupakan kenaikan tertinggi 15 tahun ini," ujar Awalil.
Adapun Belanja Negara yang melonjak hingga 14,76 persen dibanding tahun 2025 ini merepresentasikan komitmen pemerintah dalam mendanai program-program prioritas secara masif. Angka ini tercatat melompat jauh jika disandingkan dengan tahun pertama era Presiden Prabowo yang kala itu hanya tumbuh di level 2,25 persen.
Akibat akselerasi Belanja Negara yang melampaui pertumbuhan Pendapatan Negara, angka defisit anggaran pada akhir tahun 2026 diproyeksikan melebar secara terukur ke posisi Rp734,3 triliun, atau setara dengan 2,85 persen dari Produk Domestik Buto (PDB).