Cahyo juga menambahkan bahwa di bawah visi Presiden Prabowo menuju Indonesia Emas 2045, Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar tujuh hingga delapan persen yang membutuhkan dukungan investasi baru sekitar USD814,4 miliar dalam lima tahun ke depan.
Momentum ini dinilai menjadi peluang strategis bagi pelaku industri teknologi tinggi Jepang untuk memperluas kolaborasi di Indonesia, tidak hanya dalam bentuk kemitraan bisnis konvensional, tetapi menuju genuine co-creation yang berkelanjutan.
"Pemerintah Indonesia terus memperkuat reformasi struktural melalui kemudahan perizinan berbasis risiko melalui OSS, insentif fiskal dan non-fiskal yang kompetitif, serta penguatan standar industri yang selaras dengan kerangka ESG global," ujar Cahyo.
Selain itu, pertumbuhan investasi hilirisasi bernilai tambah tinggi di Indonesia yang meningkat lebih dari 43 persen pada 2025, khususnya pada sektor mineral strategis, seperti nikel dan kobalt, juga membuka peluang besar bagi KEK Industropolis Batang untuk berkembang sebagai pusat rantai pasok regional Indo-Pasifik yang aman, terdiversifikasi, dan berkelanjutan melalui dukungan teknologi maju dari Jepang.
(taufan sukma)