AALI
9900
ABBA
410
ABDA
0
ABMM
1575
ACES
1260
ACST
242
ACST-R
0
ADES
3010
ADHI
1070
ADMF
7825
ADMG
198
ADRO
1940
AGAR
328
AGII
1500
AGRO
2240
AGRO-R
0
AGRS
187
AHAP
72
AIMS
432
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1080
AKRA
4310
AKSI
398
ALDO
865
ALKA
238
ALMI
248
ALTO
0
Market Watch
Last updated : 2021/12/09 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
505.21
0.09%
+0.47
IHSG
6618.81
0.23%
+15.02
LQ45
945.91
0.03%
+0.32
HSI
24234.29
0.99%
+237.42
N225
28775.38
-0.3%
-85.24
NYSE
16899.92
0.28%
+46.35
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,345
Emas
823,698 / gram

PPATK Pastikan Uang di Rekening Terkait Akidi Tio Tak Sampai Rp2 Triliun

ECONOMICS
Ariedwi Satrio
Rabu, 04 Agustus 2021 10:11 WIB
PPATK ikut turun tangan mengusut kejanggalan sumbangan sebesar Rp2 triliun dari keluarga Almarhum Akidi Tio untuk penanganan Covid-19.
PPATK Pastikan Uang di Rekening Terkait Akidi Tio Tak Sampai Rp2 Triliun (FOTO: MNC Media)
PPATK Pastikan Uang di Rekening Terkait Akidi Tio Tak Sampai Rp2 Triliun (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) ikut turun tangan mengusut kejanggalan sumbangan sebesar Rp2 triliun dari keluarga Almarhum Akidi Tio untuk penanganan Covid-19. Berdasarkan hasil analisis dan penelusuran PPATK, uang yang ada di seluruh rekening terkait Almarhum Akidi Tio, tidak mencapai angka Rp2 triliun.

"Ternyata memang setelah kita periksa hampir seluruh rekening terkait itu sangat-sangat tidak memadai untuk ke apa namanya, memenuhi kewajiban atau komitmen yang sebanyak 2 triliun, nah itu yang temuannya seperti itu sebetulnya," kata Kepala PPATK, Dian Ediana Rae saat dikonfirmasi, Rabu (4/8/2021).

Dian menjelaskan, PPATK sebenarnya sudah curiga sejak awal adanya informasi sumbangan Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 dari keluarga Almarhum Akidi Tio. Oleh karenanya, PPATK kemudian melakukan penelitian dan analisis lebih jauh terkait sumbangan yang rencananya akan disalurkan melalui Kapolda Sumatera Selatan.

"Jadi yang pertama itu kita ini PPATK kan emang merasa berkepentingan memang kita berkepentingan untuk melakukan penelitian terhadap sumbangan dua triliun sejak semula ini sebetulnya. yang pertama karena memang ini mendapat perhatian yang luar biasa besar dari masyarakat," terang Dian.

Setelah dianalisis dan diteliti lebih jauh, kata Dian, ada ketidakcocokan antara profil keluarga Almarhum Akidi Tio dengan sumbangan Rp2 triliun yang akan diberikan untuk penanganan Covid-19. PPATK mencurigai adanya transaksi yang janggal dengan dasar profil keluarga Almarhum Akidi Tio yang tidak mumpuni.

"Karena orangnya itu sebetulnya tidak memiliki profile yang memadai untuk bisa menyumbang 2 triliun dan jauh dari itulah kira-kira," tekannya.

Dian menjelaskan lebih jauh terkait alasan pihaknya turun tangan untuk menganalisis sumbangan Rp3 triliun dari keluarga Almarhum Akidi Tio tersebut. Sebab, sumbangan untuk penanganan Covid-19 itu bakal disalurkan melalui Kapolda Sumatera Selatan, Irjen Eko Indra Heri.

"Kapolda ini sensitif persoalannya karena dalam istilah intelijen keuangan seperti PPATK itu yang namanya pejabat teras seperti Kapolda masuk kepada definisi PEPS namanya Politically Ekspose Persons. artinya adalah orang-orang yang terekspos secara politik terdiri dari pejabat dari pusat sampai ke daerah, aparat penegak hukum dan lain sebagainya itu termasuk kategori PEPS," beber Dian.

"Yang memang kalau dia terkait dengan transaksi-transaksi yang kita anggap mencurigakan, itu otomatis kita harus meneliti itu harus melakukan analisis mengenai apa yang terjadi," sambungnya.

Sekadar informasi, keluarga Almarhum Akidi Tio berencana menyalurkan donasi atau dana hibah sebesar Rp2 triliun untuk penanganan Covid-19 di Sumsel. Bahkan, seremoni bantuan tersebut telah digelar dan disaksikan oleh pejabat setempat.

Belakangan, uang Rp2 triliun yang dijanjikan oleh keluarga Almarhum Akidi Tio belum kunjung ditransfer. Alasannya, proses pencairan sulit lantaran nominal uang dalam jumlah besar.

Hingga saat ini, uang Rp2 triliun itu belum terlihat. Anak mendiang Akidi Tio, Heryanti, akhirnya diperiksa polisi terkait perkara tersebut. Status hukum yang bersangkutan masih sebagai terperiksa. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD