“Proyek yang dibangun dan dikembangkan Pertamina tidak hanya berfokus pada penguatan ketahanan energi nasional, tetapi juga memberikan multiplier effect yang nyata bagi masyarakat,” kata Baron.
Selain menggerakkan UMKM, Baron menambahkan bahwa keterlibatan pelaku usaha setempat dalam rantai pasok proyek, penyediaan jasa pendukung, hingga kebutuhan logistik dan konsumsi selama masa konstruksi dan operasi telah memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi wilayah Kalimantan Timur secara umum.
Menurut Baron, dalam pelaksanaan pembangunan kilang, Pertamina juga menjaga realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) pada kisaran 35 persen. Kebijakan ini merupakan wujud keberpihakan Pertamina terhadap kemampuan industri nasional, baik di sektor manufaktur maupun jasa, agar dapat tumbuh dan berkembang bersama proyek strategis negara. Melalui optimalisasi TKDN, diharapkan menjadi katalis penguatan ekosistem industri dalam negeri serta peningkatan daya saing nasional.
Pertamina sebagai perusahaan pemimpin di bidang transisi energi, berkomitmen dalam mendukung target Net Zero Emission 2060 dan terus mendorong program-program yang berdampak langsung pada capaian Sustainable Development Goals (SDGs).
Seluruh upaya tersebut sejalan dengan transformasi Pertamina yang berorientasi pada tata kelola, pelayanan publik, keberlanjutan usaha dan lingkungan, dengan menerapkan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasi Pertamina, berkoordinasi dengan https://www.danantaraindonesia.co.id/.
(Febrina Ratna Iskana)