AALI
9950
ABBA
408
ABDA
0
ABMM
1560
ACES
1260
ACST
240
ACST-R
0
ADES
2990
ADHI
1075
ADMF
7800
ADMG
202
ADRO
1935
AGAR
328
AGII
1475
AGRO
2230
AGRO-R
0
AGRS
186
AHAP
73
AIMS
432
AIMS-W
0
AISA
206
AISA-R
0
AKKU
50
AKPI
1080
AKRA
4330
AKSI
400
ALDO
860
ALKA
238
ALMI
248
ALTO
280
Market Watch
Last updated : 2021/12/09 Data is a realtime snapshot, delayed at least 10 minutes
IDX30
509.28
0.9%
+4.55
IHSG
6643.93
0.61%
+40.13
LQ45
952.51
0.73%
+6.92
HSI
24254.86
1.08%
+257.99
N225
28725.47
-0.47%
-135.15
NYSE
0.00
-100%
-16853.57
Kurs
HKD/IDR 1,837
USD/IDR 14,345
Emas
823,818 / gram

Pulih dari Pandemi, BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 5,8 Persen

ECONOMICS
Michelle Natalia
Selasa, 21 September 2021 15:41 WIB
BI memperkirakan perekonomian global akan tumbuh tahun ini sebesar 5,8 persen seiring pemulihan ekonomi dari pademi covid-19.
Pulih dari Pandemi, BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 5,8 Persen (FOTO: MNC Media)
Pulih dari Pandemi, BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 5,8 Persen (FOTO: MNC Media)

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) memperkirakan perekonomian global akan tumbuh tahun ini sebesar 5,8 persen seiring pemulihan ekonomi dari pademi covid-19.

Di Amerika Serikat (AS), China, dan Jepang, laju pemulihan ekonomi pada paruh kedua 2021 cenderung lebih lambat dari prakiraan. Di sisi lain, pemulihan ekonomi di berbagai negara kawasan Eropa dan Amerika Latin cenderung lebih tinggi sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi global. 

"Kinerja berbagai indikator dini pada Agustus 2021, seperti Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur dan penjualan eceran tetap kuat, di tengah indikasi lebih lamanya transportasi barang seperti tercermin pada PMI Suppliers' Delivery Times Index," ungkap Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa(21/9/2021).

Dengan dinamika tersebut, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2021 tetap sekitar 5,8 persen. Volume perdagangan dan harga komoditas dunia tumbuh kuat, sehingga menopang prospek ekspor negara berkembang.

"Ketidakpastian pasar keuangan global belum sepenuhnya mereda, dipengaruhi isu kegagalan bayar korporasi di pasar keuangan China, rencana pengurangan stimulus (tapering) oleh the Fed, serta peningkatan kasus Covid-19," tambahnya.

Perkembangan tersebut, sambung Perry, berpengaruh terhadap preferensi investor global atas aliran portofolio ke negara berkembang. (RAMA)

link copied to clipboard
COPY TO CLIPBOARD