Dia pun menilai praktik manipulasi harga terlihat jelas dalam transaksi ekspor, khususnya ke Amerika Serikat (AS).
"Mereka keliatan sekali melakukan manipulasi harga, ekspor ke Amerika misalnya (sambil baca dokumen). Jadi harganya di sini berapa itu cuma seperempat atau sepertiga apa yang ada di AS," katanya.
Purbaya mengatakan, perbedaan harga tersebut menyebabkan potensi kerugian bagi negara. "Jadi income-nya rendah kan di sini jadi saya rugi banyak," ujar dia.
Dia juga membeberkan contoh perbedaan nilai ekspor dan impor dalam dokumen yang dibawanya.
"Ada contohnya (baca dokumen), enggak mau sebut perusahaannya ya saya. Jadi ada dari Indonesia dikirim harganya USD2,6 juta impornya di sana USD4,2 juta jadi 57 persen bedanya," kata Purbaya.