sosmed sosmed sosmed sosmed
get app
Advertisement

Raksasa Minyak AS Diprediksi Cetak Laba Tertinggi Sejak 2022

Economics editor Nia Deviyana
06/07/2026 04:00 WIB
Exxon Mobil dan Chevron diperkirakan melaporkan laba kuartal II lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama.
Raksasa Minyak AS Diprediksi Cetak Laba Tertinggi Sejak 2022. Foto: Freepik.
Raksasa Minyak AS Diprediksi Cetak Laba Tertinggi Sejak 2022. Foto: Freepik.

IDXChannel - Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) diperkirakan mencetak laba pada level tertinggi sejak 2022. Namun, kondisi ini berpotensi memicu benturan dengan Donald Trump, yang saat ini mendesak industri minyak besar (Big Oil) untuk menurunkan harga bensin menjelang pemilu paruh waktu pada November.

Melansir Reuters, Minggu (5/7/2026), Exxon Mobil dan Chevron diperkirakan melaporkan laba kuartal II lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama. 

Harga minyak melonjak setelah perang Timur Tengah dimulai pada akhir Februari, sehingga pasokan bahan bakar global menjadi lebih ketat.

Berbulan-bulan masyarakat AS mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar. Kenaikan harga bensin juga memperkuat kritik dari Partai Demokrat yang berharap dapat merebut kembali kendali atas Kongres AS. Selain itu, tingginya harga BBM turut menekan tingkat persetujuan publik terhadap Trump karena banyak warga AS menilai perang dengan Iran tidak sepadan dengan biaya yang ditimbulkannya.

Pemerintahan Trump telah meminta United States Department of Justice untuk menyelidiki dugaan praktik penggelembungan harga bensin. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga memperingatkan produsen dan perusahaan penyulingan minyak bahwa Gedung Putih dapat mempertimbangkan langkah administratif jika harga BBM di SPBU tidak turun secara signifikan.

Sejak pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali normal bulan lalu, Trump menginginkan harga rata-rata bensin nasional turun ke sekitar USD2,50 per galon. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata saat ini yaitu sekitar USD3,85 per galon atau sekitar 11 persen lebih rendah dibandingkan titik terendah selama masa kepresidenannya saat ini, yakni sekitar USD2,81 per galon pada akhir Desember.

Para pelobi industri minyak kini tengah meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah dan anggota parlemen guna meredam kritik.

Para eksekutif minyak mengatakan mereka memiliki pengaruh yang terbatas terhadap harga bensin eceran. Harga minyak mentah hanya menyumbang hampir setengah dari harga yang dibayar konsumen di SPBU, sementara sisanya ditentukan oleh biaya penyulingan, distribusi, pemasaran, dan pajak.

Meski harga minyak mentah acuan telah kembali ke level sebelum perang, harga bensin di AS masih sekitar 22 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik. Para analis dan pelaku industri menilai kondisi tersebut lebih disebabkan oleh ketatnya pasar fisik bahan bakar dan terbatasnya persediaan bensin, bukan semata-mata karena harga minyak mentah.

Presiden Rapidan Energy Group, Bob McNally, mengatakan perbedaan tersebut mencerminkan tekanan struktural antara sisi pasokan dan permintaan.

“Harga bensin tidak selalu bergerak seiring dengan harga minyak mentah, terutama saat terjadi gangguan besar terhadap pasokan global, kapasitas penyulingan, dan persediaan,” kata juru bicara American Petroleum Institute, Bethany Williams.

Sementara itu, American Fuel & Petrochemical Manufacturers menyatakan bahwa kebijakan pemerintah juga berperan dalam pembentukan harga, termasuk melalui biaya regulasi.

“Kilang tidak menetapkan harga bensin jadi, dan minyak mentah hanyalah salah satu dari banyak komponen biaya,” kata kelompok tersebut. 

Gedung Putih menegaskan prioritas utama Trump adalah menurunkan harga bensin. Pemerintah juga menyoroti penurunan harga minyak sejak tercapainya kesepakatan dengan Iran serta meningkatnya koordinasi dengan industri minyak terkait perizinan dan regulasi.

Exxon menolak berkomentar. Sementara Chevron merujuk pada wawancara CFO-nya, Eimear Bonner, pada 25 Juni, yang menyatakan bahwa harga bensin membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Para analis memperkirakan laba Big Oil pada kuartal II akan menjadi yang terkuat sejak 2022, sejak invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar energi. Berdasarkan estimasi analis yang dihimpun oleh LSEG, Exxon Mobil diperkirakan membukukan laba bersih yang disesuaikan sekitar USD15,9 miliar, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal pertama. 

Sementara itu, Chevron diproyeksikan meraih laba sekitar USD9,9 miliar, juga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya.

Sebagian kenaikan tersebut kemungkinan berasal dari pembalikan kerugian akuntansi pada kuartal pertama yang terkait dengan kontrak derivatif untuk lindung nilai (hedging) atas eksposur harga minyak mentah dan produk olahan. Namun, para analis menilai peningkatan laba secara keseluruhan lebih didorong oleh fundamental pasar yang semakin kuat.

(NIA DEVIYANA)

Halaman : 1 2 3 4
Advertisement
Advertisement