Saat ini, harga rata-rata bijih nikel limonit kadar 1,2 persen di pasar domestik masih berada di kisaran USD28,5/wmt. Jika HPM berfungsi sebagai batas harga minimum, maka harga jual berpotensi menyesuaikan ke level baru tersebut setelah kebijakan berlaku.
Kenaikan harga bahan baku ini berimplikasi langsung terhadap industri hilir, khususnya smelter High Pressure Acid Leach (HPAL) yang memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP). Biaya produksi MHP dari bijih limonit non-captive diperkirakan naik sekitar USD1.700 per ton nikel.
Tekanan terhadap margin smelter semakin besar seiring dengan lonjakan biaya bahan baku lain, seperti sulfur, yang terdampak gangguan pasokan akibat konflik Iran. Kondisi ini berpotensi mempersempit margin di tengah harga nikel global yang relatif stagnan.
Meski demikian, pemerintah tetap memberikan insentif bagi pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik. Bijih nikel dengan kadar di bawah atau sama dengan 1,5 persen yang digunakan sebagai bahan baku baterai domestik tetap dikenakan tarif khusus sebesar 2 persen sesuai ketentuan PP Nomor 19 Tahun 2025.
Dari sisi industri, Stockbit menilai revisi formula HPM cenderung memberikan dampak positif bagi sektor hulu nikel, terutama produsen bijih limonit yang berpotensi menikmati kenaikan harga lebih besar.