"Dampak revisi formula HPM bijih nikel kemungkinan cenderung positif bagi industri upstream nikel, khususnya pada produsen bijih limonit. Meski demikian, realisasinya masih perlu dicermati lebih lanjut mengingat belum ada emiten yang menjual limonit langsung ke pihak ketiga," tulis Stockbit, Selasa (14/4/2026).
Untuk bijih saprolit, potensi kenaikan dinilai lebih terbatas. Hal ini karena harga jual selama ini telah mengandung premi di atas HPM lama, sehingga kenaikan HPM baru kemungkinan akan diimbangi dengan penyesuaian premi.
Di sisi lain, produsen MHP yang bergantung pada pasokan bijih dari pihak ketiga diperkirakan akan menghadapi tekanan margin tambahan.
Meski sebagian besar emiten nikel di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki model bisnis terintegrasi, risiko penurunan utilisasi smelter tetap terbuka apabila tekanan biaya tidak diimbangi kenaikan harga jual.
"Kami menilai setiap emiten cenderung akan menurunkan utilisasi smelter HPAL jika harga sulfur tetap tinggi dan tidak mampu mengkompensasi margin yang kian menipis," tulis Stockbit.
(DESI ANGRIANI)