IDXChannel – Gangguan pasokan sulfur akibat konflik Iran mulai merembet ke industri nikel Indonesia. Sejumlah pabrik pengolahan nikel dilaporkan memangkas produksi sedikitnya 10 persen sejak bulan lalu, menyusul tersendatnya bahan baku utama untuk proses hilirisasi.
Melansir dari Reuters, Selasa (14/4/2026), pemangkasan ini terutama terjadi pada fasilitas yang menggunakan asam sulfat untuk mengolah bijih nikel menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP), bahan antara penting untuk baterai kendaraan listrik (EV).
Meski produksi secara keseluruhan masih tergolong tinggi, pasokan MHP mulai mengetat, menjadi salah satu indikasi nyata bahwa konflik geopolitik mulai mengganggu rantai pasok sektor tambang.
Sumber industri menyebut, pabrik yang terdampak antara lain yang didukung perusahaan China seperti Huayou Cobalt, Lygend Resources, dan Tsingshan Group.
Hingga kini, perusahaan-perusahaan tersebut belum memberikan tanggapan resmi.
Menariknya, beberapa fasilitas sebelumnya beroperasi di atas kapasitas karena tingginya margin dan permintaan.